Tampilkan postingan dengan label Cerita Legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Legenda. Tampilkan semua postingan
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Legenda Gunung Raung

Gunung Raung adalah sebuah gunung yang besar dan unik, yang berbeda dari ciri gunung pada umumnva di pulau Jawa ini. Keunikan dari Puncak Gunung Raung adalah kalderanya yang berbentuk elips dengan kedalaman sekitar 500 meter dalamnya, yang selalu berasap dan sering menyemburkan api dan terdapat kerucut setinggi kurang lebih 100m. Gn.Raung termasuk gunung tua dengan kaldera di puncaknya dan dikitari oleh banyak puncak kecil, menjadikan pemandangannya benar-benar menakjubkan.

Untuk mendaki G. Raung, paling mudah adalah dari arah Bondowoso. Dari Bondowoso terus menuju desa Sumber Wringin dengan menggunakan Colt melalui Sukosani. Perjalanan diawali dari desa Sumber Wringin melalui kebun pinus dan perkebunan kopi menuju Pondok Motor. Di Pondok Motor kita dapat menginap dan beristirahat, kemudian kita dapat melanjutkan perjalanan ke puncak yang membutuhkan waktu sekitar 9 jam. Dari Pondok Motor ke G. Raung, dimulai dengan melalui kebun selama 1 jam lalu pendakian memasuki hutan dengan sudut pendakian yang tidak terlalu besar yaitu sekitar 20 derajat.

Hutan gunung ini terdiri dari pohon glentongan, arcisak, takir dan lain-lain. Setelah pendakian selama 2 jam atau sekitar 1300 – 1400 m pendaki akan menemukan jalan berkelok dan naik turun sampai ketinggian sekitar 1500 – 1600 m. Di daerah ini mulai terlihat pohon cemara lalu pendakian diteruskan menuju pondok sumur (1750 M). setelah itu pendakain akan mulai sulit dan sudut pendakian mulai membesar dan jalur pendakian kurang jelas karena hanya semak-semak dan kemudian terus mendaki selama 3 jam hingga dicapai Pondok Demit.

Kemudian pendaki harus mendaki lagi selama sekitar 8 jam hingga dicapai batas hutan, yang dikenal dengan nama Pondok Mantri atau Parasan pada ketinggian sekitar 2900 – 3000 m. di tempat inilah pendakian beristirahat untuk berkemah. Perjalanan dilanjutkan melalui padang alang-alang (sekitar 1 jam perjalanan), selanjutnya menuju puncak Gunung Raung yang sedikit berpasir dan berbatu-batu. Dari tempat berkemah menuju puncak G. Raung, hanya diperlukan waktu sekitar 2 (dua) jam saja. Puncak G. Raung ini berada pada ketinggian 3.332 m dari permukaan laut dan sering bertiup angin kencang. Dari pinggir kawah tidak terdapat jalur yang jelas untuk menuju dasar kawah sehingga pendaki yang bermaksud menuruni kawah agar mempersiapkan tali temali ataupun peralatan lainnya untuk sebagai langkah pengamanan.

Dalam perjalanan ke Puncak G. Raung, tidak ada mata air. Sebaiknya untuk air dipersiapkan di Sumber Wringin atau di Sumber Lekan. Untuk mendaki G. Raung tidak diperlukan ijin khusus, hanya saja kita perlu melaporkan diri ke aparat desa di Sumber Wringin. Keangkeran Gunung Raung sudah terlihat dari nama-nama pos pendakian yang ada, mulai dari Pondok Sumur, Pondok Demit, Pondok Mayit dan Pondok Angin. Semua itu mempunyai sejarah tersendiri hingga dinamakan demikian. Pondok Sumur misalnya, katanya terdapat sebuah sumur yang biasa digunakan seorang pertapa sakti asal Gresik.

Sumur dan pertapa itu dipercaya masih ada, hanya saja tak kasat mata. Di Pondok Sumur ini, saat berkemah,juga terdengar suara derap kaki kuda yang seakan melintas di belakang tenda. Selanjutnya Pondok Demit, disinilah tempat aktivitas jual-beli para lelembut atau dikenal dengan Parset (Pasar Setan). Sehingga, pada hari-hari tertentu akan terdengar keramaian pasar yang sering diiringi dengan alunan musik. Lokasi pasar setan terletak disebelah timur jalur, sebuah lembah dangkal yang hanya dipenuhi ilalang setinggi perut dan pohon perdu. Pondok Mayit adalah pos yang sejarahnya paling menyeramkan, karena dulu pernah ditemukan sesosok mayat yang menggantung di sebuah pohon. Mayat itu adalah seorang bangsawan Belanda yang dibunuh oleh para pejuang saat itu.

Tak jauh dari Pondok Mayit, adalah Pondok Angin yang juga merupakan pondok terakhir atau base camp pendaki. Tempat ini menyajikan pemandangan yang memukau karena letaknya yang berada di puncak bukit, sehingga kita dapat menyaksikan pemandangan alam pegunungan yang ada disekitarnya. Gemerlapnya kota Bondowoso dan Situbondo serta sambaran kilat jika kota itu mendung, menjadi fenomena alam yang sangat luar biasa. Namun, angin bertiup sangat kencang dan seperti maraung-raung di pendengaran. Karenanya gunung ini dinamakan Raung, suara anginnya yang meraung di telinga terkadang dapat menghempaskan kita didasar jurang yang terjal. http://id.merbabu.com/gunung/gunung_raung.html
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Towjatuwa dan Buaya Sakti

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang lelaki bernama Towjatuwa di tepian sungai Tami daerah Irian Jaya.

Lelaki itu sedang gundah, oleh karena isterinya yang hamil tua mengalami kesulitan dalam melahirkan bayinya. Untuk membantu kelahiran anaknya itu, ia membutuhkan operasi yang menggunakan batu tajam dari sungai Tami.

Ketika sedang sibuk mencari batu tajam tersebut, ia mendengar suara-suara aneh di belakangnya. Alangkah terkejutnya Towjatuwa ketika ia melihat seekor buaya besar di depannya. Ia sangat ketakutan dan hampir pingsan. Buaya besar itu pelan-pelan bergerak ke arah Towjatuwa. Tidak seperti buaya lainnya, binatang ini memiliki bulu-bulu dari burung Kaswari di punggungnya. Sehingga ketika buaya itu bergerak, binatang itu tampak sangat menakutkan.

Namun saat Towjatuwa hendak melarikan diri, buaya itu menyapanya dengan ramah dan bertanya apa yang sedang ia lakukan. Towjatuwapun menceritakan keadaan isterinya. Buaya ajaib inipun berkata: “Tidak usah khawatir, saya akan datang ke rumahmu nanti malam. Saya akan menolong isterimu melahirkan.”

Towjatuwa pulang menemui isterinya. Dengan sangat berbahagia, iapun menceritakan perihal pertemuannya dengan seekor buaya sakti.

Malam itu, seperti yang dijanjikan, buaya sakti itupun memasuki rumah Towjatuwa. Dengan kesaktiannya, buaya yang bernama Watuwe itu menolong proses kelahiran seorang bayi laki-laki dengan selamat. Ia diberi nama Narrowra. Watuwe meramalkan bahwa kelak bayi tersebut akan tumbuh menjadi pemburu yang handal.

Watuwe lalu mengingatkan agar Towjatuwa dan keturunannya tidak membunuh dan memakan daging buaya. Apabila larangan itu dilanggar maka Towjatuwa dan keturunannya akan mati. Sejak saat itu, Towjatuwa dan anak keturunannya berjanji untuk melindungi binatang yang berada disekitar sungai Tami dari para pemburu.
www.sesite.niu.edu
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Legenda Gunung Batu Bangkai

Loksado adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Indonesia. Di daerah ini terdapat sebuah gunung yang memiliki nama yang cukup unik, yaitu Gunung Batu Bangkai. Masyarakat setempat menamakannya demikian, karena di gunung tersebut ada sebuah batu yang mirip dengan bangkai manusia. Konon, kehadiran batu bangkai tersebut berasal dari sebuah cerita legenda yang sampai saat ini masih berkembang di kalangan masyarakat Banjar Hulu di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Cerita legenda ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Andung Kuswara yang durhaka kepada umanya. Karena kedurhakaannya, Tuhan menghukum si Andung menjadi batu.

Konon pada zaman dahulu, di suatu tempat di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, hiduplah seorang janda tua bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Andung Kuswara. Ia seorang anak yang baik dan pintar mengobati orang sakit. Ilmu pengobatan yang ia miliki diperoleh dari abahnya yang sudah lama meninggal. Andung dan umanya hidup rukun dan saling menyayangi. Setiap hari mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Andung mencari kayu bakar atau bambu ke hutan untuk membuat lanting untuk dijual, sedangkan umanya mencari buah-buahan dan daun-daunan muda untuk sayur.

Suatu hari, Andung pergi ke hutan seorang diri. Karena keasyikan bekerja, tak terasa waktu telah beranjak senja, maka ia pun bergegas pulang. Di tengah perjalanan, ia mendengar jeritan seseorang meminta tolong. Andung segera berlari menuju arah suara itu. Ternyata, didapatinya seorang kakek yang kakinya terjepit pohon. Andung segera menolong dan mengobati lukanya. “Terima kasih banyak, anakku!” kata orang tua itu. Dia kemudian mengambil sesuatu dari lehernya. “Hanya benda ini yang dapat kai berikan sebagai tanda terima kasih. Mudah-mudahan kalung ini membawa keberun­tungan bagimu,” ucap kakek itu seraya mengulurkan sebuah kalung kepada Andung. Setelah mengobati kakek itu, Andung bergegas pulang ke rumahnya.

Sesampai di rumah, Andung menceritakan kejadian tadi kepada umanya. Usai bercerita, Andung menyerahkan kalung pemberian kakek itu sambil berkata, “Uma, tolong simpan kalung ini baik-baik”. Umanya menerima dan memerhatikan benda itu dengan saksama. “Sepertinya ini bukan kalung sembarangan, Nak. Lihatlah, sungguh indah!” kata Uma Andung dengan takjub. Setelah itu, Uma Andung menyimpan kalung tersebut di bawah tempat tidurnya.

Kehidupan terus berjalan. Pada suatu hari, Andung terlihat termenung seorang diri. “Ya Tuhan, apakah kehidupanku akan seperti ini selamanya? Aku ingin hari depanku lebih baik daripada hari ini. Tapi…bagaimana caranya?” kata Andung dalam hati. Sejenak ia berpikir mencari jalan keluar. Tiba-tiba, terlintas dalam pikiran Andung untuk pergi merantau. “Hmm…lebih baik aku merantau saja. Dengan begitu aku dapat mengamalkan ilmu pengobatan yang telah aku peroleh dari abah dulu. Siapa tahu dengan merantau akan mengubah hidupku,” gumam Andung dengan semangat. Namun, apa yang ada dalam pikirannya tidak langsung ia utarakan kepada umanya. Rasa ragu masih menyelimuti hati dan pikirannya. Jika ia pergi merantau, tinggallah umanya sendiri. Tetapi, jika ia hanya mencari kayu bakar dan bambu setiap hari, lalu kapan kehidupannya bisa berubah. Pikiran-pikiran itulah yang ada dalam benaknya.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Andung benar-benar sudah tidak tahan lagi hidup miskin. Keraguannya untuk meninggalkan umanya pun lenyap. Dorongan hati Andung untuk merantau sudah tak terbendung lagi. Suatu hari, ia pun mengutarakan maksud hatinya kepada umanya. “Uma, Andung ingin mengubah nasib kita. Andung memutuskan untuk merantau ke negeri seberang. Oleh karena itu, Andung mohon izin dan doa restu, Uma,” kata Andung dengan hati-hati memohon pengertian umanya. “Anakku, sebenarnya Uma sudah bersyukur dengan keadaan kita saat ini. Tetapi, jika keinginan hatimu sudah tak terbendung lagi, dengan berat hati Uma akan melepas kepergianmu,” sahut Uma Andung memberikan izin.

Setelah mendapat restu dari umanya, Andung segera berkemas dengan bekal seadanya. Andung membawa masing-masing sehelai kain, baju dan celana. Memang hanya itu yang ia miliki. Ketika Andung hendak meninggalkan gubuk reotnya, Uma berpesan kepadanya. “Andung …, ingatlah Uma! Ingat kampung halaman dan tanah leluhur kita. Jangan pernah melupakan Tuhan Yang Mahakuasa. Walau berat, Uma tak bisa melarangmu pergi. Jika takdir menghendaki, kita tentu akan berkumpul kembali,” kata sang Uma dengan sedihnya.

Mendengar nasihat umanya, Andung tak kuasa menahan air matanya. “Andung, bawalah kalungmu ini. Siapa tahu kelak kamu memerlukannya,” ujar Uma Andung melanjutkan. Setelah menerima kalung itu, Andung kemudian berpamitan kepada umanya. Andung mencium tangan umanya, lalu umanya membalasnya dengan pelukan erat. Sesaat, suasana haru pun meliputi hati keduanya. Ketika Uma memeluk Andung, beberapa tetes air mata menyucur dari kelopak matanya, jatuh di atas pundak Andung. “Maafkan Andung, Uma! Andung berjanji akan segera kembali jika sudah berhasil,” kata Andung memberi harapan kepada umanya. “Iya Nak. Cepatlah kembali kalau sudah berhasil! Hanya kamulah satu-satunya milik Uma di dunia ini,” jawab Uma penuh harapan. Beberapa saat kemudian, Uma berucap kepada Andung. “Segeralah berangkat Andung, agar kamu tak kemalaman di tengah hutan.”

Andung mencium tangan umanya untuk terakhir kalinya, lalu pamit. Andung berangkat diiringi lambaian tangan Uma yang sangat dikasihinya. “Selamat jalan, anakku. Jangan lupa cepat kembali,” teriak Uma dengan suara serak. “Tentu, Uma!” sahut Andung sambil berjalan menoleh ke arah umanya. “Jaga diri baik-baik, Uma! Selamat tinggal! Uma baru beranjak dari tempatnya setelah Andung yang sangat disayanginya hilang di balik pepohonan hutan. Sejak itu, tinggallah Uma Andung sendirian di tengah hutan belantara.

Berbulan-bulan sudah Andung meninggalkan umanya. Andung terus berjalan. Banyak kampung dan negeri telah dilewati. Berbagai pengalaman didapat. Ia juga telah mengobati setiap orang yang memerlukan bantuannya.

Suatu siang yang terik, tibalah Andung di Kerajaan Basiang yang tampak sunyi. Saat menyusuri jalan desa, Andung bertemu dengan seorang petani yang kulitnya penuh dengan koreng dan bisul. Andung kemudian mengobati petani itu. Dari orang tersebut Andung mengetahui jika Negeri Basiang sedang tertimpa malapetaka berupa wabah penyakit kulit. Karena berhutang budi kepada Andung, orang itu mengajak Andung tinggal di rumahnya. Setiap hari, penduduk yang terjangkit penyakit berdatangan ke rumah orang tua itu untuk berobat kepada Andung. Seluruh penduduk yang telah diobati oleh Andung sembuh dari penyakitnya. Berita perihal kepandaian Andung dalam mengobati pun menyebar ke seluruh negeri.

Suatu hari, berita kepandaian Andung mengobati penyakit tersebut akhirnya sampai ke telinga Raja Basiang. Sang Raja pun mengutus hulubalang menjemput Andung untuk mengobati putrinya. Beberapa lama kemudian, hulubalang tersebut sudah kembali ke istana bersama Andung. Andung yang miskin dan kampungan itu sangat takjub melihat keindahan bangunan istana. Ia berjalan sambil mengamati setiap sudut istana yang dihiasi ratna mutu manikan. Tak disadari, ternyata sang Raja sudah ada di hadapannya. Andung pun segera memberi salam dan hormat kepadanya. “Salam sejahtera, Tuanku,” sapa Andung kepada Baginda.

Sang Raja menyambut Andung dengan penuh harapan. Dia kemudian menyampaikan maksudnya kepada Andung. “Hai anak muda! Ketahuilah, putriku sudah dua minggu tergolek tak berdaya. Semua tabib di negeri ini sudah saya kerahkan untuk mengobatinya, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkannya. Apakah kamu bersedia menyembuhkan putriku?” tanya sang Raja. “Hamba hanya seorang pengembara miskin. Pengetahuan obat-obatan yang hamba miliki pun sedikit. Jika nantinya hamba gagal menyembuhkan Tuan Putri, hamba mohon ampun Paduka,” kata Andung merendah.

Andung pun dipersilakan masuk ke kamar Putri. Putri tergolek kaku di atas pembaringannya. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya tertutup rapat. Walupun pucat pasi,  wajah sang Putri tetap memancarkan sinar kecantikannya. “Aduhai, cantik sangat sang Putri,” ucap Andung menaruh hati kepada sang Putri. Sesaat kemudian, Andung pun mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membangunkan sang Putri. Namun, sang Putri tetap tak bergerak. Andung mulai panik. Tiba-tiba, hati Andung tergerak untuk mengambil kalung pemberian kakek yang ditolongnya dulu. Andung meminta kepada pegawai istana agar disiapkan air dalam mangkuk. Setelah air tersedia, lalu Andung segera merendam kalungnya beberapa saat. Kemudian air rendaman diambil dan dibacakan doa, lalu ia percikkan beberapa kali ke mulut sang Putri. Tak berapa kemudian, sang Putri pun terbangun. Matanya yang kuyu perlahan-lahan terbuka. Wajahnya segar kembali. Akhirnya, Putri dapat bangkit dan duduk di pembaringan.

Semua penghuni istana turut bergembira dan merayakan kesembuhan sang Putri. Paduka Raja sangat berterima kasih atas kesembuhan putri satu-satunya yang sangat ia cintai Atas jasanya tersebut, Andung kemudian dinikahkan dengan sang Putri. Pesta perkawinan dilaksanakan tujuh hari tujuh malam. Semua rakyat bersuka ria merayakannya. Putri tampak berbahagia menerima Andung sebagai suaminya. Demikian pula Andung yang sejak pandangan pertama sudah jatuh cinta pada sang Putri. Mereka berdua melalui hari-hari dengan hidup bahagia.

Minggu dan bulan terus berganti. Istri Andung pun hamil. Dalam kondisi hamil muda sang Putri mengidam buah kasturi yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan. Karena cintanya kepada sang Putri begitu besar, Andung pun mengajak beberapa hulubalang dan prajurit untuk ikut bersamanya mencari buah kasturi ke Pulau Kalimantan.

Setibanya di Pulau Kalimantan, Andung berangkat ke daerah Loksado untuk mencari sebatang pohon kasturi yang dikabarkan sedang berbuah di sana. Alangkah terkejutnya Andung, karena pohon kasturi itu berada tepat di depan rumahnya dulu.  Andung segera mengajak hulubalang dan para prajuritnya kembali. Rupanya ia tidak mau bertemu dengan umanya.

Mendengar keributan di luar rumahnya, seorang nenek tua renta berjalan terseok-seok menuju ke arah rombongan tersebut. “Andung…, Andung Anakku…!” suara nenek tua yang serak memanggil Andung. Dengan terbungkuk-bungkuk nenek itu mengejar rombongan Andung.

Andung menoleh. Ia tersentak kaget melihat sang Uma yang dulu ditinggalkannya sudah tua renta. Karena malu mengakui sebagai umanya, Andung membentak, “Hai nenek tua! Aku adalah raja keturunan bangsawan. Aku tidak kenal dengan nenek renta dan dekil sepertimu! ujar Andung kemudian memalingkan muka dan pergi.

Hancur luluh hati sang Uma dibentak dan dicaci maki oleh putra kandungnya sendiri. Nenek tua yang malang itu pun berdoa, “Ya, Tuhan Yang Mahakuasa, tunjukkanlah kekuasaan dan keadilan-Mu,” tua renta itu berucap pelan dengan bibir bergetar. Belum kering air liur tua renta itu berdoa, halilintar sambar-menyambar membelah bumi. Kilat sambung-menyambung. Langit mendadak gelap gulita. Badai bertiup menghempas keras. Tak lama kemudian, hujan lebat tumpah dari langit. Andung berteriak dengan keras, “Maafkan aku, Uma…!” Tapi siksa Tuhan tak dapat dicabut lagi. Tiba-tiba Andung berubah menjadi batu berbentuk bangkai manusia.

Sejak itu, penduduk di sekitarnnya menamai gunung tempat peristiwa itu terjadi dengan sebutan Gunung Batu Bangkai, karena batu yang mirip bangkai manusia itu berada di atas gunung. Gunung Batu Bangkai ini dapat dijumpai di Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. (SM/sas/8/7-07).
Lanting : rakit kecil.
Uma : ibu
Kai : kakek
Abah : ayah   
http://www.sumbercerita.com
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Asal Mula Telaga Biru

Halmahera Utara merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Maluku Utara. Di daerah ini, tepatnya di Dusun Lisawa, Desa Mamuya, Kecamatan Galela ada sebuah telaga berair jernih agak kebiruan. Oleh karena warnanya agak kebiruan, masyarakat sekitar menamakannya sebagai Telaga Biru. Bagaimana asal mula telaga yang selalu jernih airnya ini? Berikut adalah kisahnya.

Alkisah, pada zaman dahulu kala jumlah penduduk di Desa Mamuya masih sangat jarang dan hanya terdiri dari beberapa dadaru (rumah) saja. Suatu ketika penduduk yang berjumlah sedikit tersebut gempar karena di daerah mereka tiba-tiba ditemukan air yang keluar dari bebatuan hasil pembekuan lahar di dekat sebuah pohon beringin. Air itu membentuk sebuah telaga yang dari jauh tampak bening kebiruan. Penduduk pun menjadi bingung. Apakah fenomena itu terbentuk secara alamiah atau mungkin pertanda bahwa akan terjadi sesuatu di kampung mereka.

Singkat cerita, berita tentang adanya telaga baru segera menyebar dengan cepat. Walhasil, datanglah orang-orang dari luar Mamuya untuk menyaksikannya. Mereka penasaran mengapa di daerah yang tergolong sulit air itu dapat muncul sebuah mata air yang akhirnya menjadi telaga. Untuk mengatasi rasa penasaran penduduk, para tetua dari Mamuya dan daerah sekitarnya bersepakat menggelar suatu ritual pemanggilan arwah leluhur untuk memperoleh penjelasan. Dan, penjelasan yang diperoleh adalah "Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uchi imadadi ake majobubu" yang dalam bahasa Indonesia berarti "timbul akibat dari hati yang remuk redam hingga akhirnya menetaskan air mata dan mengalir menjadi sebuah sumber mata air".

Untuk mengetahui siapa yang telah patah hatinya, para tetua bersepakat memanggil seluruh penduduk. Salah seorang dari mereka kemudian diutus agar membunyikan dolodolo (semacam kentongan) sebagai seruan agar penduduk berkumpul. Setelah seluruhnya berkumpul, salah seorang diantara para tetua segera bertanya, "Apakah ada yang belum hadir?"

Para penduduk saling memandang dan menghitung jumlah anggota keluarganya masing-masing. Beberapa saat kemudian barulah diketahui bahwa ada dua keluarga yang kehilangan salah satu anggotanya. Oleh karena enggan menyebut nama, mereka hanya mengatakan yang tidak datang adalah majojaru (nona) dan magohiduuru (nyong). Menurut keterangan pihak keluarga, sang majojaru telah dua hari pergi meninggalkan rumah dan sampai saat ini tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Sementara menurut keterangan pihak keluarga Magohiduuru, anak mereka telah lebih dari enam bulan merantau ke negeri seberang dan tidak tahu kapan akan kembali.

Kedua orang ini adalah sepasang kekasih yang telah lama menjalin hubungan asmara. Sebelum pergi merantau, Magohiduuru terlebih dahulu pamit pada Majojaru. Keduanya lalu berikrar untuk saling menunggu walau hari, bulan dan tahun berlalu. Keduanya juga sepakat untuk lebih baik mengakhiri hidup daripada harus menjalin hubungan dengan orang lain.

Tetapi jalan hidup berkehendak lain. Setelah enam bulan berpisah, terdengarlah kabar bahwa Magohiduuru so balaeng deng nona laeng. Dia telah melupakan ikrarnya untuk sehidup-semati sebab telah menjalin hubungan dengan perempuan lain. Hati Majojaru menjadi hancur karena Magohiduuru telah berpaling pada perempuan lain. Dengan perasaan galau dan tubuh lunglai, Majojaru keluar dari rumah mencari tempat sunyi untuk merenungkan nasibnya.

Setelah berjalan beberapa lama, sampailah Majojaru di depan sebuah pohon beringin tua yang sangat rindang. Di tempat itu dia berteduh dari sengatan panasnya sinar matahari sambil meratapi kisah cintanya. Tak terasa air matanya mengalir yang semakin lama semakin banyak hingga menggenangi daerah sekitarnya hingga membentuk sebuah telaga berwarna biru. Majojaru pun tenggelam dalam air matanya sendiri. Begitulah telaga itu terbentuk yang hingga kini masih dapat disaksikan keberadaannya di Dusun Lisawa.
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Keris Pusaka Legendaris Indonesia

1. Keris Mpu Gandring

Keris yang satu ini adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Propinsi Jawa Timur. Pusaka keris Mpu Gandring ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemiliknya, yaitu Ken Arok.

Keris Mpu Gandring dibuat oleh seorang ahli keris atau yang biasa di sebut Mpu bernama Gandring, atas pesanan Ken Arok. Ketika itu Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu hanya satu malam, dimana hal tersebut merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para "ahli keris" pada masa itu. Sobat duniaklenik.com akan tetapi ternyata Mpu Gandring menyanggupinya, berbekal kekuatan gaib yang dimiliki olehnya. Bahkan kekuatan tersebut "disalurkan" kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut.

Begitu selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris-keris pusaka lain kala itu.  Ketika keris selesai dibuat, lalu Mpu Gandring melanjutkan pekerjaannya dengan membuat sarung, untuk keris tersebut . Akan tetapi belum lagi sarung tersebut selesai di kerjakan, si pemesan yaitu Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya waktunya sudah satu hari dan harus diambil olehnya.

Lantas Ken Arok menguji Keris tersebut dan yang terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janjinya (sebab sarung keris itu belum selesai dibuat).

Dalam keadaan kritis,sang pembuat keris, yaitu  Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dan dalam perjalanannya, pusaka ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan pembesar-pembesar kerajaan Singasari yaitu Anusapati, Ken Arok sendiri, Tunggul Ametung dan keturunan Ken Arok.

2.  Keris Pusaka Setan Kober


Pusaka yang satu ini dibuat oleh seorang ahli keris bernama Mpu Supo Mandrangi, beliau adalah putra seorang empu di Tuban, Propinsi Jawa Timur. Mpu ini kemudian memeluk agama Islam dengan menjadi murid salah satu Sunan, yaitu Sunan Ampel, berbekal kemampuannya dalam membuat keris pusaka. Cukup banyak keris pusaka dibuat oleh Mpu Supo, salah satu yang terkenal adalah Keris Pusaka Setan Kober. Hasil karya monumental lainnya adalah, Keris pusaka Kanjeng Kyai Nogososro dan Kanjeng Kyai Sengkelat. Nama asli dari Keris Pusaka Setan Kober adalah "Bronggot-Setan-Kober", Keris ini dibuat pada awal kerajaan Islam Demak Bintoro di Demak. Pusaka ini kemudian dimiliki oleh Djafar Shodiq atau Sunan Kudus yang kemudian diwariskan pada Arya Penangsang yang merupakan murid kesayangannya, yang kala itu menjabat sebagai Adipati Jipang Panolan

Setan Kober di pakai oleh Arya Penangsang  ketika ia perang tanding melawan Sutawijaya. Namun tidak diketahui sesungguhnya dapur / bentuknya seperti apa.

Pernah sewaktu perang tanding, tombak Kyai Pleret yang dipakai Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang, sampai-sampai ususnya terburai keluar dari perut. Dengan sigap Arya Penangsang, mengaitkan buraian ususnya itu pada wrangka atau sarung-hulu keris yang terselip di pinggang, sembari terus bertempur. Pada saat berikutnya dalam perang tanding tersebut, Sutawijaya terdesak hebat dan kesempatan itu digunakan oleh Arya Penangsang untuk segera menyelesaikan perang tanding mereka, lantas mencabut keris dari dalam wrangka atau ngliga keris(jawa: menghunus), tanpa menyadari bahwa wilah(an) atau mata keris Setan Kober langsung memotong ususnya yang disangkutkan di bagian wrangkanya. Arya Penangsang tewas seketika itu.

Ki Juru Mertani(penasehat-Sutawijaya ) terkesan menyaksikan betapa gagahnya Arya Penangsang dengan usus terburai yang menyangkut pada hulu kerisnya. Ki Juru Mertani lalu memerintahkan agar putranya, ketika menikah kelak supaya meniru Arya Penangsang tersebut, dengan cara menggantikan buraian usus dengan ronce bunga melati (rangkaian bunga melati),  dengan begitu maka pengantin pria akan tampak lebih gagah.  Tradisi mengaitkan rangkaian melati pada keris ini, hingga sekarang masih digunakan.

3. Keris Kyai Sengkelat

Hanya sedikit cerita yang bisa dirunut atau dipercaya mengenai keris pusaka yang satu ini. Karena Keris Kyai Sengkelat terkenal justru cerita-cerita mitos yang beredar.  Mitos yang beredar adalah yang terkenal bukan kerisnya tetapi justru sang pembuat keris yaitu Mpu Supa.

Kisah tentang keris kyai sengkelat berkisar di abad 15 ketika Kerajaan Majapahit diperintah Prabu Kertabumi atau Brawijaya Ke 5.

Cerita yang beredar Keris kyai sengkelat pernah dicuri oleh adipati Blambangan, tetapi berhasil dikembalikan lagi oleh Mpu Supa tanpa melalui pertumpahan darah.

4. Keris Kyai Carubuk


Hampir mirip dengan keris sengkelat, karena hanya sedikit rujukan tertulis yang bisa dicari tentang keris Kyai Carubuk, namun banyak sekali cerita-cerita mitos tentang keris yang satu ini.

Sejauh rujukan ini bisa dipercaya, Pusaka keris kyai carubuk seangkatan keris kyai sengkelat. 

5. Keris Naga Sasra Sabuk Inten


Ketika berbicara tentang Keris  Pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten, keduanya adalah benda pusaka peninggalan Raja Majapahit dulu. Nama Nagasasra adalah nama salah satu dapur (bentuk) keris luk (jawa: lekuk) tiga belas dan ada pula yang luk-nya berjumlah sebelas dan sembilan, hal ini membuat penyebutan nama dapur ini harus disertai dengan menyatakan jumlah luk-nya.

Konon nama keris Nagasasra (tanpa-menyebutkan-dapur) menjadi terkenal karena menjadi topik dalam cerita silat karya S.H. Mintarja. Sobat duniaklenik.com dikisahkan bahwa Mahesa Jenar, yang merupakan salah satu murid Syeh Siti Jennar, adalah mantan perwira tinggi kerajaan Demak pada masa kerajaan Demak Bintoro mencari kedua benda pusaka tersebut yang konon bagi siapa yang mendapatkannya akan menjadi pewaris sah tahta kerajaan Demak.

6. Keris Kanjeng Kyai Condong Campur

Keris yang satu ini merupakan salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan folklor. Pusaka ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur.

Kyai Condong Campur merupakan salah satu dapur keris lurus. Ukuran panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang, satu lambe gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada. Bukan itu saja, kyai condong Campur juga menggunakan gusen dan lis-lis-an.

Diyakini keris pusaka ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang ahli keris(mpu). Bahan-bahan kerisnya diambil dari berbagai penjuru. Dimana pada akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh namun memiliki watak yang jahat / kurang baik.

Di dunia keris muncul mitos dan legenda yang mengatakan adanya pertengkaran antara beberapa keris. Konon Keris Sabuk Inten yang merasa terancam dengan adanya keris Condong Campur akhirnya memerangi Condong Campur. Dan dalam pertikaian itu, Keris Sabuk Inten yang kalah.

Sementara keris Sengkelat yang juga merasa sangat tertekan oleh kondisi ini akhirnya memerangi Condong Campur hingga akhirnya Condong Campur kalah dan melesat ke angkasa menjadi Lintang Kemukus(jawa: bintang berekor atau komet), dan mengancam akan kembali ke bumi setiap 500 tahun untuk membuat huru hara, dimana di dalam bahasa Jawa disebut ontran-ontran.

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Legenda Orang Kayo Hitam

Pada masa kakandanya yaitu Orang Kayo Pingai memegang tampuk Kerajaan Jambi (1480-1490) Orang Kayo Hitam sebagai putra ketiga dari empat bersaudara putera dari pasangan Putri Selaro Pinang Masak dan anak Raja Turki Akhmad Baus II  atau Akhmad Salim bergelar  Datuk Padoko Berhalo, menentang abangnya untuk tidak mengirim upeti ke Mataram (Majapahit) berbentuk pekasam pacat dan pekasan kaluang. Sebagai vatsal (bawahan) Majapahit ada kewajiban Jambi mengirim  upeti setahun sekali. Kapal-kapal ,perahu atau gerobak pengangkut upeti dihadang dan di larangnya untuk mengirim upeti pekasam pacat dan pekasan keluang  adalah haram, selain itu “Jambi adalah kerajaan, Mataram juga karajaan. Keduanya sama, Jambi juga berdaulat, kenapa kita harus tunduk” sergah Orang Kayo Hitam di hadapan balairung sari dalam kerapatan Kerajaan di Ujung Jabung Negeri Lamo.

Argumen Orang Kayo Hitam dapat meyakinkan kerapatan dan terhentilah jambi menjalankan kewajiban mengirim upeti. Reaksi mataram “Tumpas Orang Kayo Hitam sebagai biang keladi pembangkangan!” perintah raja tak semudah itu, banyak orang mengetahui dari tiga orang anak laki-laki Putri Selaro Pinang Masak, seorang di antaranya terlalu gagah dan bahkan peramal kerajaan dari Pemalang mengabarkan Orang Kayo Hitam hanya bisa terbunuh oleh sebilah keris yang besinya berasal dari logam bernama awal “pa” atau “p”, di sepuh oleh air sungai yang “pa” atau “p” juga pangkal namanya. Penempahanya pun “setukulan setiap jumat dan selesai 40 jumat.


Berita pembuatan keris pembunuh sampai ke jambi. Tanpa gentar Orang Kayo Hitam berangkat seorang diri naik rakit kulim ke Mataram. Dengan berbagai penyamaran sebagai pedagang sayuran di setiap jumat berkeliling di tempat Empu pembuat keris  yang terkenal. Akhirnya Orang Kayo Hitam sampai ke tempat Empu pembuat keris  yang tak mengetahui bahwa seorang yang terlalu banyak tanya dan ingin melihat dan memegang keris yang sedang di sepuhnya itu adalah Orang Kayo Hitam, orang yang akan pralaya dengan keris sakti yang sedang di buatnya.


Hampir sama dengan Empu Gandring ,Empu pembuat keris terbunuh dalam perebutan dengan Orang Kayo Hitam yang berlangsung ke tengah gelanggang karena di kepung oleh tentara kerajaan penjaga kers yang belum sempurna di bawah pimpinan Temenggung Brajakarti. Tetapi, mereka tak mampu menangkap Orang Kayo Hitam apalagi untuk membunuhnya. Kemudian, Raja Mataram berdamai untuk tidak meneruskan niat membunuh Orang Kayo Hitam.


Perjamuan penyambutan dilakukan. Orang Kayo Hitam di dandani seperti layaknya pembesar Kerajaan Mataram. Pada pendandanan itulah di butuhkan tusuk sanggul rambut di kepalanya. Keris yang belum sempurnalah kemudin di-gonjai-kan ke sanggul Orang Kayo Hitam. Dari peng-gonjai-an itulah namakeris Siginjei yang kelak ketika penobatan Orang Kayo Hitam di sisipkan di pinggang sebagai penanda pucuk pemerintahan Jambi. Seterusnya oleh Orang Kayo Pingai sebagai pemegang adat kerajaan mentakbirkan bahwa siapa pemegang keris Siginjei maka dilah Raja Jambi sampai turun temurun ke anak cucu keturunan Orang Kayo Hitam.


Sebagai penjamuan Orang Kayo Hitam yang gagah perkasa dan sakti mandraguna itupun diminta untuk memadamkan pemberontakan di Brebes, Pemalang, Panggungan, Kedal, Jepara dan negeri Patah Demak. Rupanya kesaktian dan jiwa kependekaran ibunya Putri Selaro Pinang Masak semakin matang menyatu dengan jiwa petualangan ayahnya Datuk Paduko Berhalo Keturunan ke tujuh dari Raja Turki Sultan Saidina Zainal Abidin bin Saidina Husin binti Fatimah Azzahrah binti Saidina Rosul, membuat Orang Kayo Hitam tampil ke gelanggang memimpin penumpasan dengan gemilang.
Semula Orang Kayo Hitam aka didudukkan sebagai wakil kerajaan di Pemalang, tetapi di tolaknya karena ia lebih memilih di jambi, “Apalagi ayahanda sudah tua, entah kan hidup, entah kan mati, saya sudah lama meninggalkan negeri” kilah Orang Kayo Hitam. Atas jasa-jasa 


Orang Kayo Hitam kelak di perkawinan Orang Kayo Hitam dengan Putri Mayang Mangurai  putri Temenggung Merah Mato penguasa Air Hitam Pauh Raja Tembesi yang meminta emas selesung besak, seruas buluh telang dan selengan baju dan kepala tungau tungau segantang ulang-aling dengan 40 orang  putri pengiring.
Ketika kembai ke Jambi, Orang  Kayo Hitam membawa istrinya Putri Ratu Mataram sedang anaknya Raden Jaya yang kemudian bergelar Temenggung Mangku Negoro dan Ratu Pengembanan tinggal dengan Sang Nenekda, penguasa Mataram yang juga membekali dengan enam kapal yang berisi para pekerja, hamba sahaya, barang pusaka dan perbekalan makanan serta harta benda lainnya. Kapal-kapal itu adalh Kapal Belah Semangka, Penyayap Panjang, Penangi, Lancang, Pinis, dan Kapal Tub. Dalam perjalanan itulah keris  Siginjei disempurnakan sebagai keris pusaka yang sudah bertahtakan mutu ratna manikam.


Keris Siginjei yan menjadi lambang keagungan dan pusaka kerajaan/kesultanan dan di badikan sebagai saalah satu unsur simbol pada lambang Provinsi Jambi (Perda Prov. Nomor 1 Tahun 1969). Sudah tentu memiliki keistimewaan tertentu yang tidak dimiliki keris lain. Keistimewaan Keris Siginjei dideskripsikan oleh Hamer sabagai berikut. 


Keris yang berbentuk sepertii ular pada lajur lingkar hulu bertatahkan batu mulia, dan sarung kayunya di lapis bungkus emas. Batu mulia yang ditatahkan pada hulu berjumlah enam belas butir diasah berselng-seling cara intan dan berlian, dan menurut susunan Martapura (Kalimantan Selatan). Di antara keemasan butir batu mulia, delapan di antaranya memiliki berat 2 karat dengan harga f. 125,- sebuah (1904). Sedangkan delapan lainnya lebih kecil dengan harga lebih kurang  f. 20.-. keenam belas batu tersebut di pasang emas batu asahan intan dalam bentuk persegi dan asahan berlian dalam bentuk oval. Bilah yang panjangnya lebih kurang 39 cm banyak di hiasi daun emas. Pada beberapa tempat hiasannya rusak dan tidak lengkap lagi. Pada bagian lebar bilah nampak sebuah rongga yang menggambarkan raksasa (buta). Di atas kepala buta di gambarkan awan-awan yang aneh. 

Di sisinya nampak seekor kalajengking dengan ujung-ujung tombak dihiasi emas. Kurang lebih 1 cm di atas buta terdapat dua singa bersayap. Singa tersebut di gambarkan dari samping, seakan-akan sedang berkelahi dengan mulut terbuka. Selajutnya, sisi depan dan belakang hingga 12 cm dari ujung bilah diberi hiasan yang di ambil dari motif tanaman. Ornamennya yang bentuknya mirip huruf S terbaring  dengan relung diatasnya berfungsi sebagai “batu besar” tumbuh tangkai-tangkai berdaun di sisi depan dan belakang berselang-seling, bunga-bungaan, dan susunan buah-buahan. Semua  dikerjakan dengan rapi dan indah. Kepala (endes) yang di sambung tempa dengan bilah  yang sedikit keluar dari sarungnya juga dihiasi dua singa bersayap. Seperti yang sudah di sebutkan di muka, sarung kayu Siginjei dilapis bungkus emas, harga material sarung emas nya f. 150,- (1940). Sarung tersebut diperkaya hiasan gambar-gambar Arab. Sisi depan dari atas sampai bawah terisi hiasan, sedangkan bagian belakang polos, namun bagian atas dan bawahnya diberi hiasan gaya Arab.

Kembali pada perjalanan hidup Orang Kayo Hitam. Setelah beberapa lama tiba kembali di Jambi tak lama berselang Orang Kayo Hitam bermaksud menimba ilmu dan tertarik pada helaian rambut terlilit puntung hanyut. Orang Kayo Hitam setelah menelisik berbagai sumber berita tokoh-tokoh ternama maka ia pergi ke Air Hitam Pauh menemui Temenggung Merah Mato. Di kediaman temenggung, ia di suguhi tapak sirih yang berisi sirih pinang dari besi. Ujian itu tidak menjadi masalah karena sajian sirih di kunyah seperti biasa. Selepas itu ujian ketangkasan dan kesaktian berlangsung seru di halaman. Hampir tiga hari ujian berlangsung dengan seimbang, tak ada yang kalah atau pun yang menang, sementara itu getaran hati getaran hati Orang Kayo Hitam kepada anak dara Sang Temenggung semakin menggelora untuk di sampaikan secara terbuka.


Tampaknya, tak bertepuk sebelah tangan gayung bersambut kato bejawab, semua warisnya suka maka atas kesepakatan keluarga Temenggung Merah Mato mengizinkan anaknya disunting Orang Kayo Hitam. Sebagai adat hendak diisi lembagonyo hendak di tuang, sudah buruk dimemakai, sudah habis dimakan, sudah besesap berjerami sudah bepadam bepekuburan, bertitian teras betanggo batu, jalan berambah yang di turut, baju bejahit yang di pakai, sudah gayur pinang sudah seko kelapo sederakah, maka sebagai adatnya Orang Kayo Hitam harus menyediakan emas selesung besak seruas buluh talang dan selengan baju serta kepala tungau segantang ulang aling dengan 40 orang dara putri untuk pengiring. Setelah meminta waktu untuk mempersiapkannya Orang Kayo Hitam kembli keUjung Jabung danterus ke Mataram menagih janji yang dulu terpatri.


Tak ada areal melintang tak ada janji yang tak di tepati, semua syarat hantaran di bawa ke Air Hitam. Selajutnya berlangsunglah acara perpautan dua insan nan antik rupawan dalam ikatan perkawinan. Selesai acara perkawinannya dengan Putri Mayang Mengurai di Air Hitam Pauh. Konon tak kurang 7 hari 7 malam keramaian berlangsung. Setelah itu rombongan Orang Kayo Hitam milir Batang Tembesi dan Batang Hari mengikuti pesan ayah mertua mengiringi sepasang itik besar (angso).


Kemudian, angso itu setelah beberapa kali milir turun ke darat di beberapa tempat, kemudian di dekat Pulau Pandan naik ke darat, muput (mandi tanah) di sana dan menghilang. Sesuai pesan Temenggung Merah Mato dan Nenek Indrijati di situlah engkau membangun negeri di tempat tanah terpilih. Ketika menebas semak belukar terkapak bedil besi, nebas ke dua terkapak gong besar. Kedua benda itu menjadi barang pusaka karena setelah  di beritahukan hal itu kepada adik Temenggung Mereh Mato yaitu Temenggung Temantan yang sibuk mencari kakandanya yang menghilang dan setelah menghitung-hitung  garis peruntungan, maka diyakini bedil besi (meriam) adalah jelmaan Temenggung Merah Mato yang di gelari “Sijimat” dab gong besar jelmaan isteri Temenggung dinamai “Gong Sitimang”.


Sekembalinya dari Air Hitam, mengabarkan soal bedil dan gong, Orang Kayo Hitam kembali ketempat bedil dan gong di temukan dan meneruskan pekerjaan membuka lahan di tempat yang dipilih itik angso yang kemidian di sebut “Tanah Pilih” yang kelak sebagai lokasi istana Raja Jambi. Setelah Istana Tanah Pilih diruntuhkan oleh kolonial Belanda di masa Kesultanan Sultan Thaha Saifuddin di jadikan tangsi militer Belanda dan kini menjadi kompleks Masjid Agung Al-Falah, masjid agung yang dikenal sebagai masjid seribu tiang.


Dari Air Hitam, ikut serta dalam rombongan adik Putri Mayang Mengurai  bernama Raden Kuning Megat Dialam dan bersama rombongan lain mereka menetap di Tanah Pilih yang kemudian semakin ramai. Tak lama kemudian, jiwa mudanya menggelora untuk pergi merantau ke daerah laut yang menurut cerita para pelaut, ada banyak pulau disana. Kehendak Raden Kuning Megat Dialam ini disetujui oleh Orang Kayo Pingai dan Orang Kayo Hitam.


Demi kemantapan keperginnya dilakukan sedekah doa selamat dan tolak balak sekaligus pemberian gelar Orang Kayo Singodirajo kepada Raden Kuning Megat Dialam. Orang Kayo Hitam menyerahkan Kapal Harimau Jantan miliknya untuk Orang Kayo Singodirajo berlayar memenuhi hasrat mencari peruntungan di pulau-pulau laut. Ketika melepas layar kapal, Orang Kayo Hitam berpesan “dimana juga tetapnya Adinda, maka segeralah Adinda datang kepada Kakanda di Tanah Pilih”.

Pulau pertama yang didarati Orang Kayo Singodirajo bertemu dengan orang yang mengaku berasal dari Kuala Reteh Indragiri, bahkan adayang dari Palembang dan daerah lain berkumpul mencari penghidupan sepanjang pesisir pulau. Mereka semua menyebutnya dirinya sendiri sebagi (kelompok) bangsa Mentang dan Baruq. Tak jauh dari sana tampak Pualu Singkep dan sebuah lagi pulau yang memiliki puncak gunung yang bercabang tiga disebut Pulau Daik, dan ada sebuah pulau lainnya bernama Pulau Pandan. Pulau-pulau itu tidak bertunggu orang (tidak berpenghuni). 


Setelah bertimbang-timbang maka Orang Kayo Singodirajo bersepakat dengan bangsa Mentang dan Baruq untuk membuat negeri di Pulau Daik dan berupaya untuk meramaikannya. Itulah tekad kebersamaan mereka. Orang-orang di gugusan Pulau Bangka di ajaknya bersama meramaikan Daik. Di Pualu Daik terdapat sungi yang ditelusuri dari muara kearah uluan. Setibanya di suatu anak sungai mereka berhanti dan di anggap cocok  llu di jadikan tempat pemukiman. 

Oleh Orang Kayo Singodirajo sungi itu dinamai Sungai Linggah, dan tempat perkampungannya disebut Kampung Linggah Daik. Dari hari kehari semakinramai dengan pendatang, mereka semuanya taat dan patuh sehingga atas kesepakatan seluruh penduduk  Orang Kayo Singodirajo di angkat sebagai Raja Penguasa Pulau Lingga dan Singkep.
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Asal Usul Danau Lipan

Di kecamatan Muara Kaman kurang lebih 120 km di hulu Tenggarong ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur ada sebuah daerah yang terkenal dengan nama Danau Lipan. Meskipun bernama Danau, daerah tersebut bukanlah danau seperti Danau Jempang dan Semayang. Daerah itu merupakan padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu.

Dahulu kala kota Muara Kaman dan sekitarnya merupakan lautan. Tepi lautnya ketika itu ialah di Berubus, kampung Muara Kaman Ulu yang lebih dikenal dengan nama Benua Lawas. Pada masa itu ada sebuah kerajaan yang bandarnya sangat ramai dikunjungi karena terletak di tepi laut.

Terkenallah pada masa itu di kerajaan tersebut seorang putri yang cantik jelita. Sang putri bernama Putri Aji Bedarah Putih. Ia diberi nama demikian tak lain karena bila sang putri ini makan sirih dan menelan air sepahnya maka tampaklah air sirih yang merah itu mengalir melalui kerongkongannya.

Kejelitaan dan keanehan Putri Aji Bedarah Putih ini terdengar pula oleh seorang Raja Cina yang segera berangkat dengan Jung besar beserta bala tentaranya dan berlabuh di laut depan istana Aji Bedarah Putih. Raja Cina pun segera naik ke darat untuk melamar Putri jelita.

Sebelum Raja Cina menyampaikan pinangannya, oleh Sang Putri terlebih dahulu raja itu dijamu dengan santapan bersama. Tapi malang bagi Raja Cina, ia tidak mengetahui bahwa ia tengah diuji oleh Putri yang tidak saja cantik jelita tetapi juga pandai dan bijaksana. Tengah makan dalam jamuan itu, puteri merasa jijik melihat kejorokan bersantap dari si tamu. Raja Cina itu ternyata makan dengan cara menyesap, tidak mempergunakan tangan melainkan langsung dengan mulut seperti anjing.

Betapa jijiknya Putri Aji Bedarah Putih dan ia pun merasa tersinggung, seolah-olah Raja Cina itu tidak menghormati dirinya disamping jelas tidak dapat menyesuaikan diri. Ketika selesai santap dan lamaran Raja Cina diajukan, serta merta Sang Putri menolak dengan penuh murka sambil berkata, "Betapa hinanya seorang putri berjodoh dengan manusia yang cara makannya saja menyesap seperti anjing."

Penghinaan yang luar biasa itu tentu saja membangkitkan kemarahan luar biasa pula pada Raja Cina itu. Sudah lamarannya ditolak mentah-mentah, hinaan pula yang diterima. Karena sangat malu dan murkanya, tak ada jalan lain selain ditebus dengan segala kekerasaan untuk menundukkan Putri Aji Bedarah Putih. Ia pun segera menuju ke jungnya untuk kembali dengan segenap bala tentara yang kuat guna menghancurkan kerajaan dan menawan Putri.

Perang dahsyat pun terjadilah antara bala tentara Cina yang datang bagai gelombang pasang dari laut melawan bala tentara Aji Bedarah Putih.

Ternyata tentara Aji Bedarah Putih tidak dapat menangkis serbuan bala tentara Cina yang mengamuk dengan garangnya. Putri yang menyaksikan jalannya pertempuran yang tak seimbang itu merasa sedih bercampur geram. Ia telah membayangkan bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh tentara Cina. Karena itu timbullah kemurkaannya.

Putri pun segera makan sirih seraya berucap, "Kalau benar aku ini titisan raja sakti, maka jadilah sepah-sepahku ini lipan-lipan yang dapat memusnahkan Raja Cina beserta seluruh bala tentaranya." Selesai berkata demikian, disemburkannyalah sepah dari mulutnya ke arah peperangan yang tengah berkecamuk itu. Dengan sekejap mata sepah sirih putri tadi berubah menjadi beribu-ribu ekor lipan yang besar-besar, lalu dengan bengisnya menyerang bala tentara Cina yang sedang mengamuk.

Bala tentara Cina yang berperang dengan gagah perkasa itu satu demi satu dibinasakan. Tentara yang mengetahui serangan lipan yang tak terlawan itu, segera lari lintang-pukang ke jungnya. Demikian pula sang Raja. Mereka bermaksud akan segera meninggalkan Muara Kaman dengan lipannya yang dahsyat itu, tetapi ternyata mereka tidak diberi kesempatan oleh lipan-lipan itu untuk meninggalkan Muara Kaman hidup-hidup. Karena lipan-lipan itu telah diucap untuk membinasakan Raja dan bala tentara Cina, maka dengan bergelombang mereka menyerbu terus sampai ke Jung Cina. Raja dan segenap bala tentara Cina tak dapat berkisar ke mana pun lagi dan akhirnya mereka musnah semuanya. Jung mereka ditenggelamkan juga.

Sementara itu Aji Bedarah Putih segera hilang dengan gaib, entah kemana dan bersamaan dengan gaibnya putri, maka gaib pulalah Sumur Air Berani, sebagai kekuatan tenaga sakti kerajaan itu. Tempat Jung Raja Cina yang tenggelam dan lautnya yang kemudian mendangkal menjadi suatu daratan dengan padang luas itulah yang kemudian disebut hingga sekarang dengan nama Danau Lipan.

(Disadur dari Masdari Ahmad, Kumpulan Cerita Rakyat Kutai, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1979)

http://www.seasite.niu.edu