Tampilkan postingan dengan label Kisah Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Misteri. Tampilkan semua postingan
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Misteri Daya Pengasih Keris Blarak Cineret

Semenjak keris itu ada di tanganku, gadis-gadis terus memburuku. Dan celakanya aku pun bergairah dengan mereka, hingga tanpa kusadari banyak gadis baik-baik yang menjadi korbanku. Bagaimana akhir kisahnya…?

Aku tidak pernah menyangka kalau peristiwa aneh ini akan terjadi menimpa diriku. Semuanya berawal dari keris usang berluk tujuh dengan motif daun kelapa (Blarak), yang ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Keris yang tanpa sengaja kutemukan di laut kidul, tepatnya di pantai Pandan Simo, ini ternyata bukanlah sembarang keris.

Mulanya, aku sedang menjalankan sebuah ritual hizbullatif selama tujuh hari hanya dengan hanya memakan nasi dan air putih. Pada hari terakhir aku menjalani ritual tersebut, ketika aku keluar rumah, tanpa sengaja kulihat selarik sinar yang amat terang. Sinar biru itu menyala berpendar-pendar di bawah pokok pohon kelapa. Sinar itu berkilauan dari tanah, dan berpendar ke akar serabut. Nyalanya yang terang sungguh amat menakjubkan. Sinarnya berbaur jadi satu antara putih dan kebiruan.


Walau merasa aneh, namun akhirnya aku pikir itu kejadian yang wajar dan alamiah saja. Toh, akar pohon kelapa memang menyimpan fospor, yang tidak menutup kemungkinan ketika terkena cahaya rembulan fospor tersebut dapat menyimpan cahaya yang di terima dari sang rembulan untuk kemudian di pantulkan, sehingga akar-akar pohon kelapa tersebut bersinar putih kebiruan secara menakjubkan.
Akan tetapi sinar kebiruan yang terdapat di sekeliling akar pohon kelapa itu ternyata terus berpendar-pendar, bahkan terlihat saling berkejaran, seperti sedang menyelubugi mahluk hidup, atau mungkin juga sesuatu benda. Benarkah apa yang kulihat ini?


Saking tidak percayanya akan peristiwa tersebut, kuputuskan untuk meamnggil Mas Andi, kakakku, untuk ikut menyaksikan cahaya aneh tersebut. Tapi sayangnya, ketika Mas Andi baru melihatnya tiba-tiba terdengarnya sebuah ledakan keras. Bersamaan dengan itu cahaya kebiruan yang tadinya berpendar-pendar di bawah pohon kelapa tadi naik ke atas batang. Sekejap kemudian sinar itu melesat dengan kecepatan yang luar biasa, mengarah ke selatan.


Menyaksikan keanehan ini, aku dan Mas Andi hanya terbengong-bengong dibuatnya. Memang baru kali itulah kami menyaksikan peristiwa semacam itu.
“ Kira-kira tadi itu apa ya?” Tanya mas Andi yang memang awam dalam hal ilmu gaib
“Menurut perkiraanku itu pusaka, Mas!” Jawabku sekenanya Padahal aku hanya menduga-duga saja. Pasalnya, aku memang sering mendengar bahwa pusaka-pusaka sakti sering beterbangan ke sana-kemari kalau malam hari, mencari tempat yang cocok dengan pancaran aura masing-masing. Mereka ada yang menyala kebiru-biruan, keputihan, kekuningan, kehijauan atau kemerahan, tergantung karaktar pusakanya.


Waktu pun terus berlalu. Aku tak lagi mengingat peristiwa tersebut. Setahun kemudian sejak kejadian tersebut, aku dan beberapa temanku berencana memancing di pantai laut selatan. Kami memilih pantai yang masih perawan. Artinya, pantai tersebut belum banyak dikunjungi orang. Ya, pantai tersebut bernama Pandan Simo.


Memancing di pantai memang tidak segampang memancing di sungai atau kolam. Kadang harus membutuhkan kejelian dan ketekunan yang lebih dari hanya sekedar memancing. Ombak kerap menggulung benang hingga benang jadi semrawut saling mengkait karuan. Belum lagi kami harus menghadapi udara yang dingin menggigit persendian
Hampir dari jam sembilan pagi sampai jam empat sore aku merasakan kejenuhan. Pasalnya, tidak satu ekor ikanpun yang mau memakain umpan kailku. Berjam-jam aku hanya menikmati deburan ombak yang bergemuruh.


Memang, pantai selatan keangkerannya bukan hanya legenda. Di samping ombaknya ganas, juga memancarkan energi mistik yang sangat besar. Begitulah setidaknya kemudian terjadi menimpa diriku.
Ketika aku masih setia memancing sembari menikmati angin sore dan deburan ombak, tanpa aku sadari ada seorang pemuda yang menghampiriku. Entah dari mana datangnya. Sepertinya pemuda ini dengan begitu saja sudah berdiri di sampingku.
“Assalamualaikum!” Sapanya.


Karena terkejut, aku tidak segera menjawabnya. Sejenak kuperhatikan tampanya. Dandanan pemuda itu bukan seperti orang kebanyakan penduduk Pandan Simo. Dia berkemeja hijau dengan celana pangsi selutut berwarna hitam. Dan separuh celana tersebut di balut dengan sarung dengan motif kotak paduan biru dan putih. Sekilas mirip dandanan orang Sumatra.
“Waialakum salam!” Jawabku kemudian sambil terus memperhatikannya. Pemuda itu sangat kurus dengan kulit kuning bersih. Sementara matanya yang bersih memancarkan kejernihan hatinya. Rambutnya ikal panjang tergerai, berkibar-kibar di terpa angin.


“Mohon maaf, Anda ini siapa? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanyaku bertubi-tubi.
Yang ditanya tersenyum penuh makna. “Ini pusaka yang dulu kau temui di bawah pohon kelapa yang tumbuh di sebelah timur dari rumah yang kau diami. Tapi waktu itu belum berjodoh. Dan sekarang sudah waktunya kau menerima pusaka ini.” Kata pemuda misterius itu kemudian.
Aku masih kebingungan karena orang tersebut sama sekali tidak pernah aku kenal sebelumnya. Aku juga ragu untuk menerima pemberiannya.
“Terimalah! Ini sudah jadi hakmu!” Tandasnya.


Meski ragu, kuraih benda itu dari tangannya. Ternyata sebuah keris. Melihat dari bentuknya, keris tersebut terkesan biasa saja. Bahkan belum dapat dikatakan keris karena tidak mempunyai gagang dan sarung. Warnanya Putih kehitaman, seperti tidak terawat. Berluk lima dengan ornamen seperti pohon kelapa (Blarak). Bahannya terbuat dari baja putih.


Setelah kuterima, pusaka usang tersebut langsung kumasukkan ke dalam tas kecil yang kubawa. Si pemuda membeberkan petunjuk singkat cara merawat keris pemberiannya.


Setelah memberikan keris usang yang bernama Blarak Cineret itu, si pemuda misterius tadi segera berbalik dan pergi meninggalkanku dengan tanpa berkata walau sepatah katapun. Tubuhnya menghilang ketika sudah beberapa meter jauhnya dari tempatku memancing.
Aku sendiri masih heran dan bertanya-tanya siapakah sebenarnya pemuda tersebut…?
***

Sebuah kelapa hijau sengaja kusediakan di kamarku. Ujung keris kemudian kucelupkan ke dalam airnya. Ya, memang begitulah petunjuk pemuda misterius tersebut untuk menjaga karismanya. Setiap harinya aku bungkus keris tersebut dengan kain merah.


Meski terkesan barang rongsokan, namun entah kenapa aku suka sekali memperhatikan pusaka tersebut. Bahkan kadang sampai berjam-jam lamanya. Sepertinya, ada daya tarik tersendiri yang keluar dari bilah besinya. Dan anehnya lagi, semenjak aku memegang keris tersebut energiku menjadi bergairah. Aku menemukan semangat yang luar biasa di dalam menjalani hidup.


Namun celakanya, semenjak keris tersebut ada di tanganku, banyak wanita yang tiba-tiba kesengsem padaku. Mereka rata-rata aktif dan agresif mendekatiku, meski mereka tergolong ada yang usianya lebih muda dariku. Cara perhatian mereka terhadapku berbeda-beda. Ada yang setiap hari menelponku dengan kata-kata manja dan mesra, ada yang setiap hari menyambangiku di kantor, ada juga yang menunjukan perhatiannya dengan selalu mengirimi makanan dan berbagai hadiah. Aku sendiri tak habis pikir!


Sering gadis-gadis cantik itu memenuhi meja kantorku hanya ingin melihatku saja. Sungguh sangat aneh! Bahkan mereka tidak perduli ketika aku menganggap mereka semua sebagai pacarku.
Karena kesempatan ini, hampir setiap hari aku pergi dengan wanita yang berbeda. Baik itu jalan-jalan, atau hanya sekedar bermalam di hotel.


Apakah karisma yang timbul di dalam tubuhku memang berasal dari keris usang yang selalu kusandingkan dengan kelapa hijau tersebut? Entahlah! Yang jelas, sejak saat itu aku tidak bisa mengendalikan karakterku. Aku selalu bergairah dengan gadis-gadis cantik yang memburuku. Hingga tanpa terasa aku telah melakukan banyak dosa. Seperti tidak paus-pausnya aku bermain perempuan. Celakanya gadis-gadis cantik yang jadi korbanku adalah gadis-gadis yang sesungguhnya baik.
Hampir empat tahun berlalu aku memegang benda usang yang sakti tersebut. Dan selama itu pula banyak gadis baik-baik yang aku sakiti dan kecewakan.


Untunglah akhirnya kesadaran itu datang juga. Aku tak ingin terus larut dalam dosa. Kini aku tidak berani lagi mempermainkan gadis-gadis yang mendekatiku. Mereka semua malah kuanggap sebagai teman baik.
Akhirnya, keris Blarak Cineret itu kupinjamkan ke seorang teman. Katanya untuk menaikan aura usaha rumahmakannya. Anehnya, ketika keris usang tersebut aku pinjamkan, malamnya aku bermimpi didatang seorang pemuda yang tampan dan gagah dengan pakaian mirip panglima perang. Dia mengaku bernama Panglima Ribosari, yang konon adalah seorang panglima kepercayaan kanjeng laut kidul yang di utus untuk turut menjaga area pantai selatan. Dia sangat marah karena aku telah meminjamkan wadagnya pada orang yang bukan jodohnya.


Paginya, setelah mengalami mimpi tersebut, telpon genggamku berbunyi. Suara di seberang sana mengabarkan bahwa keris Blarak Cineret yang di pinjamnya dariku tiba-tiba raib entah kemana.
Mulanya aku bersedih dengan hilangnya keris usang tersebut. Tapi kemudian aku mengikhlaskanya. Mungkin saja keris tersebut telah kembali ke tempatnya, di pantai selatan. Dengan hilangnya keris tersebut jiwaku terasa lebih tenang, karena tidak akan dipengaruhi aura penarik lawan jenis lagi.
Kini aku telah beristri. Aku menjalani hidup berumahtangga dengan harmonis dan bahagia. Sampai pada suatu saat aku terkejut ketika isteriku menemukan kain warna merah yang membungkus sebuah benda. Kain merah tersebut diserahkannya padaku. 


Aku berdebar-debar menerimanya, karena aku tahu persis kain merah yang membungkus sebuah benda tersebut sudah sangat aku kenal. Yang aku sangat heran kain merah tersebut tiba-tiba ditemukan istriku. Katanya ada di atas lemari. Itu tidak mungkin karena kain merah yang membungkus sebuah benda tersebut telah hilang dua tahun yang lalu, ketika di pinjam temanku yang membuka usaha rumah makan. Bagaimana mungkin kain merah berisi Keris Blarak Cineret itu bisa kembali?

Dengan hati yang berdebar-debar aku mengamati kain merah yang membungkus sebuah benda tersebut. Aku timang-timang dan berpikir beberapa kali untuk membukanya. Aku menyadari bahwa kini aku telah mempunyai istri. Akankah dengan kembalinya kain merah yang membungkus sebuah benda tersebut aku kembali akan bertualang dengan dunia para gadis yang nantinya membawa kesesatan bagiku? Dengan dada yang masih berdegup kencang akhirnya aku beranikan diri untuk membuka kain merah yang membungkus sebuah benda tersebut. Dan dadaku semakin berdegup kencang manakala benda yang terbungkus kain merah tersebut ternyata benar adalah Keris Blarak Cineret!
Petualangan apalagi yang menghadangku di hari esok? Entahlah, yang jelas semoga Tuhan melindungi dan menguatkan imanku.
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Misteri Pulau Marundang

Bagi kapal-kapal yang akan sandar di Pelabuhan Pontianak, kemungkinan besar akan melewati pulau ini. Ya, pulau Merundang! Konon, pulau ini dihuni oleh hantu. Benarkah? Berikut kesaksian salah seorang ABK kapal kargo yang pernah mengalami kejadian sangat aneh sekaitan dengan pulau Marundang…

Selepas Maghrib, kapal kargo Ratu Rosali meninggalkan pelabuhan Pontianak. Sesuai rencana, kapal ini akan berlayar menuju negeri jiran, Malaysia. Kapal yang sarat muatan ini berlayar tenang meninggalkan Dermaga Teluk Air, tempat Ratu Rosli sebelumnya ditambatkan. Senja itu, cuaca cukup cerah. Sesuai dengan ramalan cuaca yang diinformasikan oleh pelabuhan, hari itu ombak laut memang akan jinak, tanpa gejolak berarti.
Pulau demi pulau dilalui Ratu Rosli tanpa rintangan. Namun, di tengah perjalanan, tiba-tiba mesin kapal mengalami kerusakan. Kapal berhenti, terombang-ambing ditengah laut. Karena kerusakan mesin tidak dapat diperbaiki dengan cepat, maka tak ada pilihan lain. Ratu Rosli terpaksa buang jangkar.

Bila kapal mengalami kerusakan, sebagai bagian dari kru kapal, tentunya akupun ikut panic. Terlebih kapten kapal kargo yang akrab disapa Pak Chief itu. Maklum saja, keterlambatan akan menimbulkan komplain dari pemilik barang. Mereka tak pernah mau mengerti bila kapal tiba ditujuan. Bahkan akan jadi boomerang bagi pemilik kapal, sebab kepercayaan pelanggan ternodai.


Ternyata mesin kapal mengalami kerusakan fatal. Kruk as patah dan tak bisa difungsikan lagi. Sementara onderdil cadangan tidak ada.
Karena keadaan ini, keesokan harinya, Pak Chief terpaksa kembali ke Pontianak dengan menumpang kapal nelayan yang kebetulan akan pulang.
Tak ada yang mesti dikerjakan selama Pak Chief berada di darat. Para ABK menghambur-hamburkan waktu percuma, atau paling-paling memancing cumi-cumi.


Pemandangan laut yang menoton memang membuatku jenuh. Akhirnya aku beranjak masuk ke dek. Anehnya, malam itu aku gelisah. Setiap ruang sepertinya tidak membuatku nyaman. Berdiri salah, duduk apalagi.
Setelah cukup lama berbaring di kamar, rasa kantuk pun menyerang. Beberapa saat kemudian aku terlelap.Dan, entah berapa lama aku tertidur, tiba-tiba seorang wanita hadir dalam mimpiku. Bibirnya yang padat berisi itu menyunggingkan senyuman yang begitu mempesona.


Wanita cantik itu mengenakan gaun malam warna perak. Langkahnya gemulai, anggun bak peragawati di atas cat walk. Lekuk tubuhnya, amboi, indah sekali!
Sesekali dia menebar pandang ke seantero ruangan. Dan sesekali pula dia melirik genit kepadaku. Sesaat kemudian dia menghentikan langkahnya. Berdiri mematung dekat jendela yang memang sengaja dibiarkan terbuka. Rambut panjangnya terurai menutupi leher jenjangnya, melayang-layang liar dipermaikan angin yang berhembus semilir.
Sebagai seorang pelaut yang jarang bertemu perempuan, apa perempuan secantik dirinya, maka aku pun langsung tersihir oleh kecantikannya. Jantungku berdebar tak beraturan. Betapa ingin aku menyapanya, namun lidahku terasa kelu.


Entah berapa lama pandanganku tetap menancap padanya. Bidadari itu belum juga beranjak dari jendela. Namun, seketika rasa takjubku berubah menjadi takut. Entah mengapa, perempuan itu menatapku dengan tajam, dengan sorot matanya yang penuh dengan bara kebencian. Tatapannya berubah nanar, persis singa betina lapar yang ingin menerkam mangsanya. Sangat mengerikan!
Seolah tak peduli pada ketakutanku, perempuan itu merentangkan kedua tangannya yang dipenuhi bulu-bulu halus. Ya, dia sepertinya ingin terbang ke luar jendela. Tapi, tidak! Secepat kilat dia malah menghampiriku dan langsung mendekapku.
Dalam dekapanya, aku sulit bergerak. Nafasku tercekat. Anehnya, tubuh wanita cantik ini berbau seperti kemenyan. Sangat menyengat. Aku meronta, berusaha melepaskan diri. Lalu aku berteriak keras. “Lepaskan aku! Tolooong…!”


Anehnya lagi, kenapa Very, teman sekamarku tidak lekas membantuku? Padahal posisinya tepat di sisiku. Bahkan tubuh kami nyaris bersentuhan diatas dipan untuk dua orang ABK. Kalau pun akhirnya ia bangun lebih dulu, mungkin karena mendengar gumam tak jelas, atau tersenggol tubuhku yang bergerak tak terkendali.
“Hei..Man bangun!” teriaknya sambil mengguncangkan tubuhku.
Aku tersentak, dan kembali ke alam nyata. Spontan aku amat lega terlepas dari beban menyiksa dari mimpi yang menakutkan itu.
Very menyeringai melihatku masih ketakutan. Dia juga tampak tegang. “Mimpi seram ya, Man?” Tanyanya. Dia mengingatkanku agar membaca Bismillah sebelum tidur, kemudian memberiku segelas air mineral.


“Mimpinya aneh,” ujarku setelah menenggak air mineral sampai habis.
“Memangnya mimpi apaan sih, sampai kamu berteriak-teriak seperti orang sekarat?” tanya Veri.
“Menyenangkan tapi menakutkan Ver. Seram!” jawabku, Lalu kuceritakan isi mimpiku.
“Berarti makhluk itu penghuni pulau Marundang? Mengapa baru sekarang? Padahal sudah seminggu kita lego jangkar di sini,” ujar Very setelah mendengar ceritaku, sambil mengernyitkan dahinya,
Aku memang baru mendengar apa yang disebut Veri sebagai Pulau Marundang itu. Anehnya, nama pulau ini sepertinya berhubungan dengan wanita yang hadir dalam mimpiku.


Selepas mimpi itu, aku memang sulit memejamkan mata. Bahkan, sekitar pukul tiga dini hari, melalu jendela, aku menerawang ke kejauhan. Samar-samar pulau yang terletak antara Indonesia dan Malaysia itu tampak diselimuti kabut, terkesan angker. Tiba-tiba bayangan sosok wanita itu kembali mengusikku. Bukan kecantikan atau senyumnya, melainkan sorot matanya yang menakutkan. Hih, bulu kudukku berdiri.


“Sudahlah, lupakan saja, Man! Mimpi kan hanya bunga tidur. Jangan terlalu dipikirkan kalau kau selalu mengingatnya, nanti kesurupan lho!” Very menepuk bahuku.
Dua hari kemudian, kekhawatiran Very terjadi. Menjelang sore, aku merasakan perubahan yang aneh. Sosok wanita itu kembali mengusik ketenganku. Sudah kupaksakan agar bayangannya enyah dari ingatanku, tetapi tak bisa.


Apa yang terjadi selanjutnya menimpa diriku? Semuanya diceritakan oleh Very, karena aku memang sama sekali tidak menyadarinya. Beginilah kisahnya…:
Setiba dari Pontianak, Pak Chief kaget mendengar suara gaduh dari kamarku. Dia penasaran, karena selama ini belum pernah melihatku bikin ulah. Mendapati aku dirubungi para ABK, karuan Pak Chief keheranan. Saat itu, aku bukanlah diriku lagi. Rupanya, makhluk itu telah menguasaiku.
Pak Chief, juga teman-temanku ABK yang lain, ketakutan melihatku terus cekikikan, dengan mata melotot sambil menceracau tak jelas. Pak Chief berusaha menenangkanku.


“Siapa kau ini, laki-laki atau perempuan?” tanyanya. Sementara itu, para ABK saling berpandangan, penuh harap menunggu jawaban. Mereka ketakutan saatku pelototi bergantian.
Bukan jawaban yang didapatkan didapatkan dari mulutku yang kerasukan itu. Menurut cerita Very, aku malah menampar keras pipi kiri Pak Chef.


Sontak saja lelaki bertubuh gempal ini jadi berang. Lima ABK yang mendapat perintah langsung darinya segera memegangi tangan dan kakiku. Namun, mereka kewalahan, sebab aku terus berontak dengan tenaga kuat luar biasa.


Merasa khawatir akan keselamatanku, takut aku mencebur diri ke laut misalnya, atas perintah Pak Chief, kemudian aku diikat pada pilar di tengah ruangan. Ikatannya sangat kuat, dengan menggunakan tali sebesar jari kelingking orang dewasa.


Kata Very, aku memang tak bisa berkutik lagi. Tubuhku langsung terkulai menyatu dengan pilar itu. Suasana kapal pun berubah tenang, dengan demikian para ABK, khususnya bagian mesin bisa lebih berkonsentrasi memperbaiki kerusakan mesin.
Keputusan Pak Chief memang kejam, namun tepat. Hal itu merupakan wujud dari tanggung jawabnya sebagai pemimpin. “Sebelum sadarkan diri, jangan lepaskan tali ini. Tolong awasi dia!” katanya dengan tegas, seperti yang ditirukan Very.


Sejurus kemudian, Pak Chief pergi menuju ruangan mesin. Dua orang petugas juru mesin mengaku kewalahan, sebab baru kali ini mereka menghadapi kerusakan fatal. Butuh kesabaran ekstra memasang kembali truk as ke dalam mesin. Apalagi onderdilnya masih baru.
Akhirnya, mesin selesai diperbaiki. Anehnya, di saat bersamaan, aku yang semula kerasukan kembali siuman. Pak Chief girang melihatku.


“Sudah sadar kau rupanya?” candanya sembari mengucek-ucek rambutku.
Setelah mesin berhasil dihidupkan dan jangkar ditarik ke haluan, Ratu Rosali pun siap melaju kembali meneruskan pelayaran yang tertunda. Karena truk asnya diganti, kapal melaju lebih kencang dari biasanya, yakni dengan kecepatan 12 mil/jam.


Meskipun aku telah sadar, namun ternyata Pak Chief masih merisaukan keselamatanku. Buktinya, sepanjang perjalanan aku selalu diawasinya. Rupanya, dia khawatir kalau tiba-tiba makhluk itu kembali merasuki tubuhku.
Syukurlah, tak ada kejadian aneh hingga kami sampai di tujuan. Usai bongkar muatan, selama 15 hari di pelabuhan Malaysia, kami kembali berlayar menuju Lampung. Aku tak sabar ingin secepatnya tiba disana. Aku yakin, Marni pasti menantikan kedatanganku yang sudah terlambat lama. Dia wanita sederhana pedagang kopi keliling di pelabuhan. Setiap awak kapal yang bersandar di Lampung, tentu mengenalnya. Bersamanya, aku berharap hidupku lebih berwarna lagi.


Pada saat pelayaran menuju lampang, suatu malam aku sendirian di kamar. Asyik, aku bebas berfantasi tanpa ada yang mengganggu. Aku membayangkan Marni, agar bisa melupakan sosok makhluk jahat itu. Tapi, ya Tuhan, beberapa jam kemudian, aku kembali mendapatkan teror!
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sosok mengerikan itu sudah berdiri di hadapanku. Dia menampakkan wujudnya yang sangat menyeramkan. Persis Mak Lampir. Gaun malamnya tetap berwarna perak, namun wajahnya tak cantik lagi.
Aku takut setengah mati. Sekujur tubuhku lemas. Ingin berteriak, tapi bibir rasanya terkunci. Ingin lari keluar dari kamar pun tak bisa.


Akhirnya, dengan tubuh gemetar, aku hanya pasrah. Di saat ketakutanku tak tertahan lagi, tiba-tiba dia menghilang. Aku lantas menghambur ke luar kamar, ke ruangan Pak Chief. Aku menemukan ketenangan dan merasa aman. Setidaknya, ada hiburan sementara menunggu pagi. Pak Chief cukup bijak, mengizinkan aku nonton DVD sesukaku di kamarnya.
Kapal bersandar di Lampung pada malam hari. Aku betul-betul kasmaran. Setelah pamit pada Pak Chief, aku menemui Marni yang rumahnya tidak seberapa jauh dari pelabuhan. Gadis sederhan itu amat antusias mendengarkan kejadian aneh yang kualami.
Beberapa saat kami terdiam. Marni menatapku. Entah apa yang dia pikirkan. Kemudian dia memecah kesunyian.


“Sebaiknya , istirahat saja dulu kerja di laut, Kak. Makhluk itu berbahaya! Siapa tahu dia minta korban. Tapi saya hanya menyarankan. Tidak memaksa, lho!” bibir gadis itu bergetar.
Giliran aku diam kebingungan. Mana yang harus kupilih? Masih dua pulau lagi yang akan kusinggahi. Kalau diteruskan, aku akan terus-terusan diteror makhluk sialan itu. Aku tak ingin berlama-lama dalam kebimbangan.


Karena yakin, rasa takut itu berasal dari diriku sendiri, maka kuputuskan meneruskan pelayaran ke pulau Bangka. Keinginan mengundurkan diri kutangguhkan sampai tiba di rute terakhir. Ya, kembali ke Pontianak. Dengan begitu, paling tidak aku bangga akan diriku. Setidaknya aku bukan pelaut pengecut.


Selama bersandar di pulau Bangka, tak ada kejadian aneh. Mungkin makhluk itu telah lupa dan bosan mengusik ketenanganku. Atau mungkin dia sudah berselingkuh dengan ABK lain? Segala sesuatu berjalan wajar hingga selesai bongkar muatan. Setelah itu, pelayaran dilanjutkan menuju Ketapang.
Pagi cerah, laut masih berkabut, sewaktu kapal bertolak meninggalkan pelabuhan Bangka.
Sebagai seorang pelaut aku tahu persis kalau sedari dulu pulau Ketapang memang terkenal nuansa mistinya. Sering kudengar cerita teman yang melihat penampakkan di pelabuhan. Tapi, aku cenderung mengabaikannya.


Tiga hari berlalu, aman di Ketapang. Pak Chief gembira melihatku kembali ceria dan membaur sesama ABK. Seperinya biasanya, kami bersenda gurau melepas penat usai kerja bongkar muatan.
Namun, sungguh aneh, di tengah keceriaan itu, tiba-tiba sekelebat bayangan kembali melintas dalam benakku. Bayangan wanita bergaun perak itu. Tapi, segera kutepis dan langsung mengingat Marni. Demikian kulakukan berulang-ulang kali, sehingga pikiran dan perasaanku mulai ngelantur. Semula aku beranggapan, mustahil makhluk itu kembali mendatangiku lagi karena jarak Marundang – Ketapang terlampau jauh. Tapi nyatanya, dia terus mengikuti dan kembali bereaksi. Kali ini kejadiannya sangat aneh.
Malam itu, hujan masih menyisakan gerimis. Suasana pelabuhan Ketapang tampak lengng. Biasanya, bila cuaca cerah, warga setempat selalu datang meramaikan pelabuhan. Disana-sini biasanya terlihat pasangan memadu kasih, duduk santai di dermaga sambil mengobral janji-janji manisnya.
Tapi, malam itu suasana sepi sekali. Bahkan, sebagian temanku pasti sudah terlelap. 


Aku belum mengantuk. Aneh, perasaanku serasa sangat galau. Resah. Kusibuk kandiri dengan mempertimbangkan keputusan terbaik setelah tiba di Pontianak nanti. Berhenti kerja di laut, tapi apa yang bisa aku lakukan? Sementara aku tak punya pengalaman kerja di darat?
Angin bertiup kencang dan rasa dingin semakin menggigit. Sebagai perokok kronik, di saat cuaca dingin, aku sangat membutuhkannya. Sial, rokokku tak satu pun tersisa. Aku beringsut ke kamar sebelah. Begitu pintu terkuak, kulihat temanku sudah pulas meringkuk. Rasanya sungkan membangunkan tidurnya. Siapa tahu, mungkin dia tengah mimpi indah.


Kemudian aku langsung meraih sebungkus rokok yang tergeletak di atas meja. Kunyalakan korek api lalu menyulut sebatang. Begitu melangkah ingin meninggalkan kamar, tiba-tiba ada yang menyentuh pundakku. Spontan bulu kudukku meremang.


Ya, Tuhan! Makhluk itu muncul dari kehampaan. Dia tiba-tiba saja sudah berdiri dengan berkacak pinggang menghadangkan di bibir pintu. Tubuhnya yang langsing itu masih mengenakan gaun malam berwarna perak. Bibirnya tersenyum sinis dengan sorot mata melotot tajam.
Tanpa kuasa menolak, aku mengikuti langkah wanita itu ketika dia menuntun lenganku pergi meninggalkan kapal. Hanya itu terakhir yang kuingat di ambang batas kesadaranku.


Rupanya, tak seorang ABK pun tahu bahwa aku kembali dirasuki dan pergi bersama sosok perempuan misteri itu ke alamnya. Ya, suatu tempat yang sulit diketahui di mana letak persisnya. Sebuah tempat yang sangat asing bagiku, dan bagi siapa pun juga. Mungkin bukan di alam nyata. Yang pasti, panorama alamnya begitu indah dilatari sederetan pohon rindang.
Anehnya, selama dalam pengembaraan itu, yang kurasakan bukannya malam hari, tetapi suatu sore saat matahari akan tenggelam. Cuaca redup menyejukkan. Seluas mata memandang, yang kulihat hanyalah hamparan pemandangan menakjubkan.


Setelah cukup lama berjalan, akupun merasa lelah. Aku mengajaknya duduk di tepi sebuah telaga. Wanita itu berdiri membelakangiku. Sementara aku tak berkedip memandangi ikan-ikan beraneka warna yang terus berenang berseliwaran di dalam telaga yang sangat bening. Karena kelelahan, aku bersandar pada pokok pohon mati ditepi telaga itu. Tak lama kemudian, makhluk itu melirikku sekilas, lalu pergi tanpa bicara sepatah katapun.
Yang tak kalah aneh, saat terjaga, aku berada buritan kapal. Dengan gugup, aku segera berlari meninggalkan lokasi ini. Waktu itu pagi sudah tiba. Saat masuk kamar, kulihat Very belum juga bangun.


Pagi itu, perasaanku tak menentu. Aku merenung, mengenang perjalanan yang kutelusuri di luar kesadaranku. Sementara. Ratu Rosali bertolak meninggalkan pelabuhan Ketapang.
Selama dalam pelayaran menuju Pontianak, sengaja aku pindah kamar. Temanku tak keberatan bertukar kamar yang kuanggap sial itu.
“Dengan senang hati aku akan tidur di kamarmu. Jika nasib lagi mujur, siapa tahu makhluk itu hadir dalam mimpiku nanti. Kemudian memberi angka jitu. Lalu aku kaya mendadak jadi jutawan,” ujar Idham, temanku, dengan gayanya yang jenaka.


Setelah bertukar kamar dengan Idham, kukira wanita gaib itu tak lagi mengusikku. Namun, kenyataannya dia terus mengikuti kemana pun aku pindah, bahkan ke mana pun kapal berlayar. Aku tak bisa mendeteksi keberadaannya aku karena tak punya kemampuan supranatural.
Di kamar yang baru, aku beranjak tidur dengan perasaan sedikit lega. Biarlah temanku yang didatangi makhluk gaib itu. Tapi, apa yang terjadi? Tiba-tiba dia muncul lagi dalam mimpiku. Kulihat dia tampak beringas, sepertin ingin menelanku hidup-hidup. Jelas terdengar saat wanita itu bicara begini, “Namaku Tukiyem. Aku minta disediakan kambing putih.”


Bahkan, dia mengancam akan terus meneror ABK Ratu Rosali sebelum keinginannya dikabulkan. Aku hanya melongo terdiam. Hanya bisa mendengar, ingin bicara, tapi tak terucapkan.
Mimpi malam itu makin membulatkan tekadku untuk mengundurkan diri. Aku tak harus takut tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan di darat. Bukankah tersedia banyak pilihan dalam hidup? Jika mau berusaha, selalu ada jalan, demikian pikirku.
Bila tak ada peluang di daratan, apa salahnya kembali bekerja di laut. Tak harus kapal kargo Ratu Rosali yang berhantu ini.


Setelah selesai bongkar muatan di pelabuhan Pontianak, malamnya aku menemui Pak Chief di kamarnya. Dengan tegas kusampaikan keputusanku. Mendengar itu, dia menyipitkan mata. Mungkin sulit memahami alasan pengunduran diriku yang begitu mendadak. Tapi, dia merasa tidak berhak menghalangi niatku.


Sebelum pergi meninggalkan kapal, aku harus menceritakan mimpiku semalam. Salah besar jika kupendam sendiri. Demi keselamatan seisi kapal, apa salahnya memenuhi permintaan makhluk itu.
Sepertinya Pak Chief tak mempercayai kata-kataku. Dia mengangap makhluk gaib jenis apapun hanyalah tahyul belaka. Tak mengapa. Yang penting aku lega, sebab mimpi yang membebani pikiranku itu telah kuceritakan padanya.


Sebulan kemudian, Ratu Rosali kembali berlayar ke Malaysia. Sebelum kapal bertolak, aku menemui Very dan menanyakan tentang kambing putih permintaan makhluk itu. Tapi jawabannya, “Pak Chief mengabaikan itu!”
Aku membatin, ABK siapa lagi yang akan diteror wanita sialan itu nanti?
Sementara belum mendapat pekerjaan, aku menghabiskan hati-hariku di pelabuhan. Kadang ikut melaut dengan perahu nelayan. Berangkat pagi mencari ikan, sore harinya kembali ke daratan.
Waktu terus berlalu, Senin pagi, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan kapal nelayan yang membawa Pak Chief bersama 10 ABK Ratu Rosali. Kapal nelayan itu menyelamatkan mereka saat terapung di tengah laut, tak jauh dari pulau Marundang.


Menurut Very, yang kutemui dalam keadaan shock, saat melintasi lautan pulau Marundang, kapal kembali mengalami kerusakan. Baling-baling kemudi patah tanpa sebab. Ketika itulah tiba-tiba angin bertiup kencang dari dua arah, barat dan barat laut, membangkitkan ombak setinggi 5 meter.
Ratu Rosali terombang-ambing tanpa daya. Akhirnya, suatu tamparan ombak yang begitu dahsyat menenggelamkannya. Tamatlah riwayat kapal kargo itu….
Mendengar cerita Veri, seketika sosok makhluk itu berkelebat dalam benakku. Adakah hubungan kecelakaan itu dengan sikap sombong Pak Chief, yang tak mau memberikan kambing putih pada sosok perempuan gaib yang mengaku bernama Tukiyem itu?
Wallahu’alam. Hanya Allah SWT yang mengetahui rahasia hikmah di balik setiap musibah.
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Susuk Pengasih Nyai Singa Bawuk

Media susuk ini adalah bulu kemaluan seekor harimau. Siapa yang memasangnya, jika dia perempuan, akan menjadi banal dan hot. Berikut sebuah kisah nyata pemasang susuk kramat super langka ini….

Dulu, dia dikenal sebagai perempuan cantik penebar pesona. Namun kini dia hanya bisa berbaring lemas hampir tanpa daya. Teriakan kesaktian setiap malam memecah dari mulutnya yang kering dan kisut. Entah apa yang dirasakannya. Mungkin kesakitan, atau mungkin juga ketakutan.
Kenyataan tragis itu harus dialaminya hanya karena sewaktu muda dia tergofa memburu nafsu dan ego keduniawian. Dia rela diperbudak kekuatan gaib yang berasal dari aura harimau betina yang sedang birahi, yang sukmanya dimasuki setan betina yang harus seks.

Dia terlahir dari pasangan orang tua yang secara kebetulan memiliki kelebihan dalam bidang suprantural. Trista namanya. Sejak masih kecil kehidupannya sangat kental dengan aroma mistis, meski ayahnya yang mendalami ilmu mistik kejawen itu tidak pernah menurunkan ilmu-ilmu miliknya kepada putrinya ini.
Diusia 16 tahun, Tirsta dijodohkan dengan lelaki murid terkasih bapaknya. Sebut saja bernama Pristono. Lelaki yang sudah berusia 30 tahun ini sangat ngemong, sehingga rumah tangga mereka selama 4 tahun berjalan sangat rukun. Sayangnya, mereka tak dikaruniai keturunan. Sampai di usia 34 tahun, usia yang sangat muda, Pristono meninggal karena suatu penyakit yang disebut orang desa dengan istilah “angin duduk”.


Di usia 20 tahun, jadilah Trista hudup menjanda. Statusnya ini sering menimbulkan kondisi yang tidak enak. Daia kerap kali jadi bahan gunjingan di kampungnya. Karena janda muda dan cantik, dia juga sering jadi bahan cemburu buta para ibu di desanya.


Merasa tak tahan dengan keadaan tersebut, akhirnya Trista melangkahkan kakinya untuk merantau ke Sumatera. Dia ikut menumpang di rumah kakaknya.
Di Sumatera Trista bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga kaya. Tanpa bisa dikendalikan, janda muda ini jatuh cinta pada anak majikannya. Sudah dapat dipastikan, pemuda tampan itu tak mungkin sudi menanggapi cinta janda kembang dari desa terpencil di pelosok Jawa ini. Trista sama sekali tidak sepadan dengan dirinya.


Cinta bertepuk sebelah tangan akhirnya membawa Trista berkenalan dengan dunia mistis. Dia menemui Mbah Darto, orang sakti yang juga berasal dari Jawa dan kebetulan adalah saudara seperguruan Bapaknya Trista. Terenyuh oleh nasib yang menimpa Trista, Mbah Darto menyarankan agar janda muda ini memasang susuk bulu kemaluan harimau betina yang sedang birahi, atau dalam istilah wong Jawa disebut Susuk Pengasih Nyai Singo Bawuk. Susuk ini tingkat kesulitannya luar biasa, karena mencarinya harus menunggu saat musim kawin harimau. Saat si raja rimba sedang melangsugkan hasrat birahinya, maka harus dibunuh. Yang betina untuk si pemasang wanita, demikian pula yang jantan untuk pemasang laki-laki.


Menurut pengakuan Nek Trista, untuk pemasangan susuk harimau birahi ini harus diambilkan bulu yang tumbuh (maaf) di kemaluan harimau tersebut, meski hanya satu helai saja. Cara pemasangannya dengan ritual yang rumit. Seteklah bulu kemaluan harimau disiapkan, maka kewanitaan Trista dibasuh dengan darah harimau. Lalu, dengan cara gaib, bulu kemaluan harimau itu dipasangkan di bagian terlarang tersebut.
Hasilnya memang luar biasa. Setelah memasang susuk keramat ini, anak majikan Trista yang tampan itu langsung bertekuk lutut di bawah kakinya.


Singkat cerita, mereka pun menikah. Trista merasa dapat menggapai keinginannya, meski sesungguhnya pernikahan itu terjadi tanpa didasari kasih sejati sebagaimana wajarnya.
Dalam rentang perjalanan waktu, karena pengaruh Susuk Pengasih Nyai Singa Bawuk, akhirnya Trista tak dapat mengendalikan nafsu birahinya. Dia telah dikuasai kekuatan gaib yang bersemayam dalam susuk tersebut. Sejak itu, mulailah badai menerjang bahtera rumah tangganya.
Setelah harta dan kejantanan suaminya habis, Trista meninggalkannya. Dia lari mengejar impiannya untuk memuaskan nafus birahinya, sekaligus mengumpulkan harta duniawi.


Trista memilih kembali ke tanah Jawa. Tapi dia berlabuh di Jakarta. Di kota ini dia semakin menjadi-jadi. Dia terjun ke dunia hitam pelacuran. Hebatnya, setiap laki-laki hidung belang yang berhubungan intim dengan dirinya pasti akan ketagihan, sehingga banyak diantara mereka yang ludes uang atau harta bendanya.
Sebenarnya, Trista bukanlah gadis yang matre. Ini semua karena pengaruh susuk harimau betina tersebut, sehingga dia menjadi liar. Dan keliarannya membutuhkan biaya yang tinggi demi memenuhi selera live stylenya yang telah berubah. Dia bukan lagi gadis kampong yang lugu dan apa adanya. Untuk semua ini, sudah tentu dia membutuhkan uang banyak.
Begitulah! Petualangan Trista baru berhenti ketika dia jatuh ke dalam pelukan seorang duda hiperseks. Jadi klop sudah mereka. Kebetulan juga lelaki bernama Harmoko ini punya kehidupan yang lumayan. Mereka menikah, dan Trista terentaskan dari lembah hitam.


Sayang, pernikahan ketiganya inipun juga tak dikaruniai anak. Di usia 50 tahun, usaha Harmoko bangkrut karena ditipu beberapa rekan bisnisnya. Akhirnya mereka jatuh miskin.
Biaya hidup di Jakarta sangat mahal. Karenanya mereka memutuskan pulang ke kampung halaman Trista di Jawa. Di tempat tinggalnya yang baru, Trista mulai tekun memperdalam ilmu klenik, dan akhirnya membawa dirinya bertemu dengan roh gaib yang bernama Nyai Pilut. Dari bisikan Nyai Pilut inilah, Trista tahu sesuatu masalah yang ditanyakan orang lain. Ya, Trista menjadi dukun prewangan.
Tak lama kemudian, Trista cukup kondang di daerahnya. Banyak orang datang kepadanya. Merasa dendam dengan nasib buruk yang menimpa Hormoko, suaminya, yang ditipu rekan bisnisnya, maka mendorong Trista sering menipu orang yang datang padanya, dengan pembayaran yang cukup mahal. Ada-ada saja alasan yang digunakan untuk mengeruk uang pasiennya.


Karena kelewat komersil, nama Trista akhirnya redup bak ditelan malam. Menurut orang-orang dekatnya, Trista telah ditinggal pergi oleh Nyi Pilut, yang tidak suka Trista telah berubah perangai menipu orang-orang yang meminta pertolongan padanya.


Akhirnya Trista jatuh miskin lagi. Dan yang lebih mengenaskan, Harmoko terkena stroke. Lima tahun sakit akhirnya dia meninggal dunia. Trista sering merenung, sekarang dia sendiri, tak punya siapa-siapa untuk berbagi cerita. Padahal dia benar-benar mencintai suaminya itu.


Usia Trista sekarang telah 75 tahun. Sejak Harmoko meninggal, dia memang sudah tak mau lagi bersentuhan dengan laki-laki, meski itu sangat berat. Ketuaan telah menggerogoti raganya. Dia jatuh terkulai tak berdaya.


Dalam ketidakberdayaan ini setiap malam, nenek Trista kerap berteriak-teriak kesakitan dan kadang-kadang menggeram bak seekor harimau. Oleh adik-adiknya, diusahakan cari syarat piranti gaib. Dari hasil deteksi ahli batin seorang paranormal wanita yang disapa akrab Jeng Rahayu dikatakan; “Ada 9 susuk ditubuh Mbah Trista, yang delapan saya sanggup mencabut, tapi yang satu, yang dipasang di kemaluannya, rasanya perlu waktu untuk mempelajarinya.”


Menurut Ahimsa, salah seorang adik Mbah Trista, ke-8 susuk pengasih berhasil dicabut oleh Jeng Rahayu. Untuk susuk yang satunya sedang mohon petunjuk ke Tuhan. Dua minggu kemudian, Jeng Rahayu bilang, kalau susuk itu bisa dikurangi daya gaibnya dengan Jadem Arab.
Jadem adalah tanaman semacam agave atau disebut lidah buaya, tapi yang tumbuh di gurun Arab. Entah dari mana dapatnya, sejak diberi Jadem Arab itu, teriakan Mbah Trista tak begitu memilukan. Tapi tetap saja menjerit-jerit hampir tiap malam, meski frekuensinya berkurang.


Jeng Rahayu juga bilang pada Ahimsa, Susuk Pengasih Nyai Singa Bawuk hanya dapat dihilangkan dengan darah kucing kembang talon (belang tiga) jantan dan tapelan kulitnya.


Betapa sulitnya mencari kucing kembang talon jantan, sebab kucing jantan jenis ini pasti dibunuh induknya sendiri, atau kucing dewasa lainnya bila diketahui hidup. Konon, bila sampai tumbuh dewasa ia akan menjadi rajanya kucing.


Tapi, puji syukur, Ahimsa, bisa mendapatkan kucing dimaksud meski masih anakan. Kucing mungil yang masih sangat muda itu dipotong, darahnya digunakan untuk membasuh kemaluan Trista, lalu kulitnya yang sudah diseset ditempelkan di tempat terlarang itu.


Ritual tersebut dilakukan sore hari. Menjelang tengah malam, tiba-tiba Mbah Trista menjerit sangat keras dan mengaum panjang seperti harimau. Kata Ahimsa, dari pusarnya keluar cahaya kemerahan, meluncur menembus genteng. Tak lama kemudian, Mbah Trista tertidur pulas.


Satu minggu sejak peristiwa itu, Trista tiap malam tak teriak-teriak lagi dan tak menggeram. Nenek renta itu akhirnya wafat dalam damai setelah susuk Nyi Singo Bawuk terlepas dari raganya.
Bila melihat betapa cermin hidup yang ditayangkan Misteri ini begitu memilukan, masihkan kita akan memburu piranti gaib yang hanya memberi kenikmatan semu sesaat? Setelah itu terkena laknat?
Penulis mengungkap semua ini bukan untuk membuka wacana ajakan untuk mengikuti jalan sesat tersebut. Tapi bijaklah dalam menentukan pilihan hidup.


Kisah nyata ini, dengan segala rasa hormat, penulis tidak bersedia mengungkap jati diri para pelaku peristiwa, baik Trista sekeluarga maupun Jeng Rahayu. Karena ada hubungan persahabatan yang erat diantara kami. Nama-nama pelaku disamarkan.
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kedahsyatan Pelet Kantil

Tidak ada pelet atau susuk nomer satu di jaman sekarang. Kecuali pernah bertemu langsung dengan pengaruh gaib Nyi Roro Kidul. Dari penguasa gaib ini konon lahir pelet Kantil yang mampu menggubah kecantikan seseorang. Kekuatan pelet ini bisa ditarik ke alam nyata oleh pelaku ritual, jika dapat bertemu langsung dengan pemiliknya, yakni Nyi Roro Kidul.

Mengingat ilmu pelet Kantil Nyi Roro Kidul terkait dengan ilmu hitam, maka ada mitos tumbal yang biasanya diminta, pelaku pelet akan memperdayai korbannya untuk berhubungan seksual layaknya suami istri. Kalau semula menolak didekati begitu terkena sihir pelet dalam sekejab pikirannya dirasakan perasaan lain yang tidak belum pernah dia rasakan.

Rasa cinta ditaburi kangen menggebu pada seseorang yang sama sekali tidak pernah dia ‘anggep’ mendadak tumbuh begitu cepat. Selebihnya selama dalam melakukan hubungan intim ini korban akan tersedot kekuatan batinnya dan akan rapuh dengan sendirinya. Lama-kelamaan dia dengan mudah akan dijemput amut.

Konotasi yang menakutkan inilah yang oleh kalangan spiritualis ditarik menjadi ilmu yang lebih manusiawi. Bukan lagi bagian ilmu pesugihan, tetapi ilmu hitam sekedar mempengaruhi lawan jenis dengan meminta restu pada Nyi Roro Kidul. Restu yang dimaksudkan berupa sebuah ritual yang dilakukan, kemudian diwujudkan dengan sebuah benda yang diberi kekuatan gaib oleh Nyi Roro Kidul. Yakni, minyak pelet dan susuk pengasihan yang berguna untuk manusia.

Lebih jauh disebutkan oleh paranormal handal yang rendah hati, Mbah Sangkil, yang kini masih sering menjalani laku ritual pelet itu, hakikat dan keampuhan ilmu pelet kantil Nyi Roro Kidul memang tidak bisa disangsikan lagi. Dia menyebut, bahwa pelet ini merupakan pengasihan tingkat tinggi yang bersawab mistis. Dan, memang berasal dari Nyi Roro Kidul, penguasa gaib kerajaan siluman laut selatan.

“Sesungguhnya yang dimaksud kecantikan dan kebagusan itu, ya aura yang terpancar dari fisik dan jiwa seseorang. Alhasil, lawan jenis bisa terpikat. Jadi, pelet kantil Nyi Roro Kidul itu simbolis dan relatifnya bisa diwujudkan dalam benda yang tentu saja harus melalui ritual dan mendapatkan restu pemiliknya. Yakni, Nyi Roro Kidul sendiri,” paparnya.

Lalu bagaimana untuk mendapatkan ilmu pelet ini? Dia telah melakukan ritual untuk mengejahwantakan ilmu ampuh ini ke dalam media kebendaan. Jadi, bukan hanya berdasar pada cerita legenda mistis bahwa sebuah ilmu bisa mengubah wajah seseorang menjadi rupawan.
Tetapi dengan pendalaman dan pelacakan melalui ritual pemiliknya, dia punya keyakinan bahwa ilmu pelet siluman yang cukup ampuh ini bisa ditarik ke alam nyata. Pelaku ritual bisa bertemu langsung dengan si mbaurekso ilmu pelet kantil, Nyi Roro Kidul. “Hakikat ilmu ini kelakone ya kanthi laku, maka dengan ritual yang bisa saya lakukan mudah-mudahan Nyi Roro Kidul bisa merestuinya,” paparnya.

Kedasyatan pelet Kanthil Nyi Roro Kidul yang kini mulai merebak ini pun mulai diminati banyak orang. Salah satunya adalah kalangan wanita pekerja malam seperti purel, hostes, dan pekerja seks kemersil kelas tinggi lainnya. Mengapa kalangan ini sangat berminat?
Itu bisa dicerna pada motifnya, jika kalangan wanita di lembah hitam ini memang butuh materi yang berlimpah. Dan itu hanya bisa didapat dari pria-pria pelanggan. Sedangkan tidak ada cara lain agar pria itu jadi gandrung, selain harus memeletnya. “Saya kira, pelet ini memang cukup ampuh. Sawabnya hampir sama dengan kartu rintrik di kalangan PSK, dan wanita malam,” tambahnya. (mus)
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Tempat Roh Pejuang Bertemu

Kewingitan Gumuk Jimbrek, Salatiga sampai sekarang masih cukup diakui. Terutama bagi kalangan spiritualis dan ahli laku spiritual. Karenanya di tempat ini masih diyakini punya yoni untuk ritual khusus seperti ngalab berkah. Salah satu mitos yang masih dipatuhi masyarakat, bahwa gumuk angker ini adalah tempat wahana mistik menaikan pangkat para pejabat. Benarkah?

Keberadaan gumuk yang berada di Desa Sugihwaras, Salatiga ini sangat terkait dengan mitos dan kepahlawanan Pangeran Diponegoro. Disebut Gumuk, berarti gudukan tanah tinggi menyerupai bukit kecil. Sedangkan jimbrek, diidentikan dengan jembeg yang berarti becek dan kotor. Namun, pengertian ini lebih mendekati nuansa mistis sehingga kata lain disebut artian gumuk angker.

Cerita Gumuk Jimbreg, memang cukup menggiriskan warga sekitarnya. Betapa tidak ! mereka banyak yang percaya bahwa di lahan ini merupakan sarangnya bangsa dedemit. Hingga suatu waktu muncul siluman ular dan bangsa lelembut lainnya. Karena situasi wingit inilah beberapa warga petani yang berada di sekitar gumuk mengaku selalu dicekam rasa ketakutan, was-was, bahwa setiap kali kambingnya tiba-tiba lenyap bila masuk di areal ini.

Mitos kewingitan ini terkait dengan sebuah cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Salatiga, diawali oleh keberadaan seorang tokoh yang bernama Ki Ajar Sampoerna. Namun menurut Eyang Karto, 65 tahun, juru kunci gumuk jimbrek, Ki Ajar adalah salah satu guru spiritual Bung Karno. Namun, versi lain ada yang menyebut tokoh ini adalah salah satu prajurit panglima perang Pangeran Diponegoro. Betulkah demikian?

Dikisahkan pada perang sakral (1835-1836) itu terjadi di wilayah Jateng secara keseluruhan. Pengeran Diponegoro menerapkan siasat bergerilya sehingga Belanda dibuat kocar-kacir. Hingga siasat licik Kapten Tack akhirnya berhasil menawan beliau dan dibuangnya dalam pengasingan.
Dan, mitos kekeramatan gumuk ini sampai sekarang masih sangat dipercayai oleh peziarah. Bahkan, ada semacam kepercayaan bahwah banyak yang nyadran di makam ini berhasil mencapai apa yang dimohonkan. Eyang Karto sendiri menegaskan jika keberhasilan para peziarah itu sudah tidak terhitung lagi.

Buktinya diantara peziarah banyak yang kembali untuk menggelar selamatan berupa menyembelih kambing di makam ini. Puncaknya, pada saat haul yang diadakan pada malam Suroan. “Peziarah yang berhasil akan datang ke tempat ini kembali sebagai tanda bahwa nadarnya telah terkabul,” kata Eyang Karto.

Bapak tua yang satu keluarganya hidup diabdikan untuk merawat wasilah ini menyebutkan jika tujuan para peziarah ini sangat beragam. Ada yang hanya lelaku batin artinya cuma mencari solusi berupa ketenangan baru, untuk penyembuhan penyakit, laku spiritual sebagai tuntutan seorang musyafir. Namun, ada juga yang meminta agar diberi kesuksesan dalam berkerja, disayang atasan, dan cepat naik pangkat dalam meniti karirnya.
Namun, umumnya para pelaku spiritual mempercayai bawha makam ini khusus untuk berburu berkah bagi calon pejabat dan pengusaha. “Para peziarah yang lelaku di sini syaratnya cuma sederhana saja. Cukup membawa kembang telon dan dupa. Biasanya mereka ini puasa minimal sehari semalam. Sambil berdoa di makam sesuai dengan maksud dan tujuannya,” ujarnya.

Ritual ini dipercayai sebagai bentuk komunikasi gaib pelaku pada penghuni makam. “Maka lewat kemapunya ilmu himah Ki Ajar dan Eyang Diponegioro dan Bung Karno mudah-mudahan berkah itu bisa terkabulkan,” tambahnya Eyang Karto. (ais)http://misterionline.com/
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Keramat Bukit Ngonang di Desa Sukomoro

Oleh : Sukandar
Syahdan, dahulu kala ada sebuah kerjaan yang berdiri megah di wilayah Palembang sekarang ini. Kerajaan yang tidak disebutkan namanya ini suatu ketika diserang oleh karajaan dari pulau Jawa. Akibat penyerangan yang hebat dan sangat mendadak tersebut, maka kerjaan yang megah itu pun hancur, rata dengan tanah.

Dikisahkan pula, bahwa di saat-saat akhir sebelum kerejaaan ini jatuh ke tangan para penyerang, sang Raja yang berkuasa dengan arig meminta kepada ke tiga anaknya agar segera pergi meninggalkan istana. Ketiga anak sang Raja itu masing-masing adalah: Pangeran Ngondang, Pangeran Ngonang, dan yang bungsu seorang dara yang cantik jelita bernama Ngunti Komala Sari.

Kepada ketiga darah dagingnya, raja meminta agar sebelum kerjaannya jatuh ke tangan prajurit musuh, mereka harus bergegas pergi dengan membawa harta secukupnya untuk bekal di perjalanan nanti.

“Ingatlah anak-anakku! Janganlah kalian berhenti sebelum kapal yang kalian kemudikan berhenti dengan sendirinya. Bila kapal itu telah berhenti sendiri, maka di situlah tempat kalian memulai kehidupan baru!” Kita-kita, begitulah pesan terakhir sang Raja kepada ketiga anaknya.

Setelah menerima pesan terakhir, dan dengan membawa bekal harta secukupnya, berangkatlah ketiga anak Raja itu meninggalkan istana yang telah rata dengan tanah. Meraka pun harus menempuh perjalanan yang sangat panjang, hingga akhirnya berhentilah kapal yang meraka layarkan di sebuah daerah di Sungai Rawas, karena kapal mereka tersangkut di sebuah batu cadas.

Daerah tempat berhentinya kapal tersebut kini dikenal sebagai Desa Sukomoro. Sedangkan batu cadas tempat kapal mereka tersangkut kini masih tetap ada.

Setelah kapal mereka kandas di deareh tersebut, maka mereka bertiga pun memulai kehidupan baru dengan memiliki bidang pekerjaan masing-masing. Ngondang, saudara tua selalu betapa atau bersemedi diatas batu pinggir sungai. Sedangkan Ngonang suka berburu rusa, sementara adik mereka, Ngunti, suka menenun kain songket.

Berdasarkan cerita dari nenek moyang Desa Sukomoro yang dituturkan secara turun temurun, Ngunti Komala Sari tidak hanya cantik jelita. Sang putri ini juga memiliki rambut yang sangat indah, yang panjangnya sampai ke tumit kakinya, dan hitam mengkilap warnanya.

Hari demi hari ketiga bersaudara itu sibuk menjalankan aktifitasnya masing-masing. Sementara, sebuah peristiwa terjadi pada diri Pangeran Ngoang. Pada suatu ketika, di saat sedang asyik berburu di tengah hutan di pinggir sungai Batang Hari, Jambi, Pengeran Ngonang melihat ada putrid raja yang sedang mandi.

Alangkah cantik putrid raja itu. Karenanya, timbulah hasrat Pangeran Ngonang untuk meminang putri tersebut sebagai istrinya. Namun apa hendak di kata. Pangeran Ngonang harus menyadari status dirinya. Dia tidak ada ubahnya seperti rakyat biasa yang tak punya apa-apa, karena dia kini adalah pangeran yang tengah hidup terbuang di tempat persembunyian.

Namun, hasrat Pangeran Ngonang tak dapat diredam lagi. Dengan tekad yang bulat dia berjanji akan tetap berusaha meminang putrid Raja tersebut, dan kelak akan dia jadikan sebagai istrinya.

Untuk mewujudkan hasratnya ini, satu-satunya jalan adalah dengan meminta keajaiban dari Yang Maha Kuasa. Maka karena itu, mulai Pangeran Ngonang bertapa, seraya memohon pada Sang Maha Pencipta agar bisa memberinya jalan yang terbaik untuk meminang putri dambaan hatinya.

Setelah genap 40 hari bertapa tanpa makan dan minum, di hari terakhir datanglah seorang kakek. Sang kakek kemudian memberinya selembar kain songket yang berwarna hitam. Si kakek menyuruh Pangeran Ngonang untuk menyerahkan songket itu kepada putrid dambaan hatinya, sebagai mahar perkawinan mereka.

“Disaat tangan sang putri menyentuh kain songket ini, maka dia akan jatuh cinta setengah mati kepadamu, Pengeran. Karena itu kau harus berusaha untuk bisa menemuinya!” Begitulah pesan yang disampaikan si kakek kepada Pangeran Ngonang.

Namun, sebelum melaksanakan pesan itu ada syarat yang harus dilakukan oleh Pangeran Ngonang. Ya, sebelum dia menyerahkan kain keramat tersebut kepada putri dambaan hatinya, sang pangeran harus menjemurnya terlebih dahulu selama satu minggu. Kain keramat tersebut tidak boleh diangkat dari jemuran sebelum sampai 7 hari, walau apapun yang terjadi.

Pangeran Ngonang sangat senang karena tapanya membawa hasil. Dengan senang hati dijemurlah kain songket tersebut di depan pondoknya. Setelah menjemur kain keramat tersebut, dia pun kembali menjalankan pekerjaannya, yakni pergi berburu ke hutan.

Sayangnya, sebelum pergi berburu Pangeran Ngonang lupa meninggalkan pesan kepada kakak dan adiknya. Maka, celakalah dia. Di saat hari keenam hujan turun dengan lebatnya, dan secara spontan Ngunti Komala Sari mengangkat kain yang masih di atas jemuran tersebut.

Aneh, karena tindakannya ini, secara gaib Ngunti Komala Sari jatuh cinta kepada kakaknya, Pangeran Ngonang. Begitu pula sebaliknya yang terjadi pada Pangeran Ngonang. Dia melihat Ngunti adiknya laksana putri yang diidam-idamkannya selama ini.

Lambat laun Pangeran Ngondang, kakak tertua mereka, sadar akan ketidakberesan yang terjadi pada kedua adiknya. Betapa geramnya hati Pangeran Ngondang melihat kedua adiknya itu jatuh cinta. Baginya, tidak ada cara lain untuk memisahkan mereka berdua, kecuali harus dibunuh salah satu di antara mereka.

Maka, rencana pembunuhan itu disusunlah. Di suatu siang, Pangeran Ngondang mengajak adiknya, Pangeran Ngonang, untuk menjala ikan di Sungai Rawas. Ketika tengah asyik menjala, secara diam-diam Pangeran Ngondang menusuk bahu adiknya, Pangeran Ngonang, dengan sebilah keris. Namun ajaib, keris tersebut malah patah menjadi dua bagian.

Melihat kakeknya berniat membunuhnya, dengan heran Pangeran Ngonang pun bertanya, “Mengapa kakak ingin membunuhku? Apa salahku?”

Dengan suara gemetar Pangeran Ngondang menceritakan kejadian yang dilihatnya selama ini, “Kamu telah jatuh cinta kepada adik kamu sendiri. Kamu tidak boleh melakukannya. Karena itulah aku ingin membunuhmu!”

Mendengar itu, Pangeran Ngonang sadar bahwa kejadian selama ini adalah akibat kesalahananya, sehingga membuat adiknya lupa pada dirinya sendiri. Ini semua karena pengaruh dari gaib yang ada pada kain songket hitam pemberian si kakek misterius. Dia pun berkata kepada kakaknya, “Jika Kakak ingin membunuhku maka tusuklah di siku tangan kiriku dengan kerisku sendiri. Aku pasti mati, Kak!”

Untuk menghidari aib yang lebih besar dan memalukan, Pangeran Ngondang memang terpaksa membunuh adiknya, dengan cara seperti yang diberitahukan Pangeran Ngonang.

Rupanya, di saat pembunuhan itu berlangsung, Ngunti Komala Sari, adik mereka, ingin mencuci beras ke sungai. Di saat melihat kekasihnya mati, Ngunti lalu melompat ingin menolong kekasihnya. Tetapi kepalanya membentur batu dan akhirnya mati. Ya, kedua kakek beradik itu bersama dalam tragedi cinta terlarang….

Untuk mengenang kejadian tersebut, oleh penduduk Desa Sukomoro, bukit tempat berlangsung peristiwa ini dinamai Bukit Ngonang, dan sampai sekarang kuburan kedua kakak beradik itu masih ada diatas bukit tersebut. Bahkan, keris yang digunakan untuk membunuh Pangeran Ngonang masih ada dan disimpan oleh salah seorang warga yang mendapatkan keris tersebut melalui mimpi.

Sampai sekarang, masih banyak pecahan keramik, guci, serta alat-alat dapur yang tebuat dari tanah liat berserakan di sekitar makam Pangeran Ngonang dan Ngunti Komalasari. Berdasarkan cerita dari nenek moyang Desa Sukomoro, pecahan keramik tersebut adalah harta mereka disaat pelarian mereka dari istana kerajaan.

Mengenai kekramatan Bukit Ngonang disebutkan, pernah ada seorang warga yang memcoba menyepi di atas kuburan kakak beradik tersebut dan minta nomor buntut. Celakanya, orang ini malah lari terbirit-birit karena merasa dikejar oleh ular yang besar sekali.

Ada juga cerita tentang salah seorang warga yang ingin memancing di sungai Rawas. Dia tertidur dan didalam tidurnya dia bermimpi dikasih ilmu pengobatan alternatif oleh seorang kakek. Sampai sekarang warga ini selalu dipanggil untuk mengobati orang-orang yang memerlukan pertolongannya.

Seiring perjalanan sang waktu, Bukit Ngonang tak lagi seindah dulu. Kawasan hutannya yang dulu masih asri, karena penduduk tak mau menanam padi di atas bukit sebab mereka masih menghargai tempat ini, sekarang telah berubah menjadi ladang tempat menanam padi bagi warga Desa Sukomoro. Dan yang lebih menyedihkan lagi, tempat ini sekarang menjadai ajang muda mudi berpacaran. Kenyataan ini membuat pudarnya kramat Bukit Ngonang.

Lewat tulisan ini, Misteri mengajak, mari kita sama-sama menjaga tempat bersejarah peningalan masa lalu, namun bukan untuk memuja apalagi sampai meminta kepada selain Allah SWT. Bukankah bangsa yang baik itu adalah bangsa yang menghargai peningalan masa lalu atau sejarahnya?

Semoga kita selalu mendapat Rahmat dari Allah SWT. Amiiin…!
(majalah-misteri.net)